"enak banget kamu udah jadi guru, udah bisa cari duit sendiri." atau "enak ya jadi guru ketemu anak-anak yang lucu dan polos-polos".
Kalimat-kalimat diatas sudah sering saya dengar, saya pun kontan hanya bisa 'nyengir', tidak tahu akan menjawab apa, karena jujur saja kondisinya jauh dari kata 'enak'.
Well, enak sih. Serius. Tapi kata 'enak' tidak mutlak menggambarkan kehidupan seorang guru, sekalipun guru mata pelajaran seperti saya.
Untuk para anak muda yang sedang semangat-semangatnya membangun negeri dengan kerelawanan, bertemu anak-anak dengan senyum polosnya memang menyenangkan, mendebarkan, dan menambah wawasan. Ditambah dengan bonus foto-foto candid yang apik dan instagram-able yang bisa di upload dengan caption nan inspiratif. Saya memahami itu sekali, saya juga pernah merasakannya. Namun ketika dirimu menjadi tenaga pendidik yang bertemu mereka setiap hari dengan segala keimutan dan keaktifannya, mungkin kesan pertama akan berbeda dengan yang seterusnya.
Anak-anak yang cenderung pemalu, ceria dan lucu ketika bertemu orang baru akan berubah menjadi anak-anak yang polos, hiperaktif, susah dipahami, dan banyak ingin tahu sehingga pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan akan berulang-ulang dan terkesan menjenuhkan. Yang mereka inginkan hanyalah apapun yang membuat mereka tidak bosan. Maka jangan heran ketika selesai satu tugas mereka selalu merengek ingin jajan keluar. Jika bosan pun selalu berterus terang dan menuntut, membuat hati guru-guru yang mendengarnya menjadi 'nyess'.
Banyak orang berpikir bahwa guru adalah profesi yang mudah dan membosankan. Karena persepsi "mudah" itu, bahkan banyak orang yang menganggapnya sebagai profesi 'cadangan', ketika mereka tidak bisa menggapai jurusan-jurusan yang lebih bergengsi di perguruan tinggi bergengsi pula. Padahal guru merupakan salah satu unsur terpenting dalam kemajuan bangsa.
Teman teman, menjadi guru bukan hanya perlu intelektual dalam mata pelajaran yang diajarkannya. Beban guru lebih dari itu. Calon guru belajar psikologi agar mereka bisa memahami calon anak-anak didiknya dengan baik. Calon guru juga belajar filsafat, agar dia tau hakikat dirinya dan bagaimana ia bersikap sebagai guru. Calon guru sudah dididik dengan kedisiplinan tinggi ketika ia mulai belajar menjadi guru. Sulit loh, menahan diri dengan rela pakai kemeja serta seragam rapih dan sepatu tertutup khas guru ketika anak-anak jurusan lain bahkan dengan entengnya bisa pergi kuliah dengan jeans dan baju-baju modis.
Ketika seseorang sudah menjadi guru, maka ia tidak hanya dituntut untuk pintar, namun juga beradab, sabar, pengertian dan berwibawa. Apalagi ketika dihadapkan dengan anak-anak SD yang cenderung seperti mesin fotokopi, yang gampang sekali men-'copy' apa yang orang sekitarnya lakukan. Bukan hanya di kehidupan sehari-hari, namun juga di dunia maya. Seperti contohnya murid-murid saya yang tiba-tiba suka berfoto dengan kedua tangan membentuk dua jari dan kaki diangkat sedikit seperti yang saya lakukan di foto profil facebook saya. Niat saya hanya seru-seruan, namun ternyata ditiru oleh mereka. "bu, kenapa anak muridnya bisa tahu facebook ibu?"; mohon maaf, di hari pertama saya mengajar, yang mereka kejar dari saya adalah nama facebook dan akun sosial media saya yang lain.
Jenuhkah saya? bosankah?
Ternyata tidak.
Selalu ada hal-hal baru yang saya temukan di hari-hari mengajar saya. menjadi guru itu melelahkan, maka jangan heran ketika ada beberapa guru senior yang bahkan tidak segan membentak anak-anak muridnya. Namun percayalah, ketika kau menemukan murid-muridmu tumbuh menjadi sosok yang baik dan membanggakan, rasa senangnya akan lebih berharga dibanding gajimu. Menemukan mereka bisa berkembang demgan 'passion' mereka, melihat binar-binar mata mereka karena mengerti akan ilmu yang kita sampaikan..rasanya luar biasa, seperti kau sudah menanam dan merawat satu tumbuhan dan pada akhirnya tumbuhan itu tumbuh dengan baik. Menyenangkan rasanya, ketika kau menjadi bagian dalam cerita sukses seseorang. Pernah merasakan itu? ketika bukan dirimu yang sukses, namun kau merasa begitu berarti karena ternyata telah menjadi bagian dari cerita suksesnya.
Untuk guru dan calon guru dimanapun berada, jangan menyerah dengan apa yang sedang dan akan kita jalani. Tugas kita mulia, maka kitapun akan mulia. Seorang guru harus punya ilmu, inovasi, dan itikad baik. Namun itulah tantangan kita. Profesi kita tidak membosankan. Profesi kita penuh tantangan dan itu yang membuat kita begitu berarti.
Jumat, 04 Agustus 2017
Sabtu, 08 Juli 2017
Definisi Bahagia (?)
Seperti apa sukses dan bahagia menurut versimu?
Sepertinya setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang ini.
Sukses dan bahagia versi teman saya adalah ketika berhasil menjadi seorang Taruna atau lulus di salah satu perguruan tinggi kedinasan. Seorang teman lainnya menganggap sukses dan bahagia adalah ketika bisa mendirikan startup sendiri. Ada lagi yang mengganggap sukses dan bahagia adalah ketika bisa travelling ke tempat-tempat impiannya. Saya sendiri menganggap sukses dan bahagia itu sederhana, bisa dikelilingi buku-buku yang disuka dan bisa menjalani rutinitas sesuai dengan passion.
Well, ada banyak hal yang disepakati orang sebagai sesuatu hal yang sukses dan membahagiakan, seperti menjadi PNS, TNI, dokter, dan sebagainya. namun tidak semua orang punya keinginan yang sama kan?
Kalau begitu, kenapa masih saja ada orang yang meremehkan sesuatu yang sedang orang lain jalankan? Kenapa masih ada orang tua yang memaksa anaknya untuk menjadi dokter, PNS di kementerian keuangan, Polisi, atau segudang profesi lainnya, padahal dengan menjadi fotografer atau pekerja seni si anak bisa cukup merasa sukses dan bahagia?
Ya, masalah orang-orang sekarang adalah suka mengeneralisasikan sesuatu hal. Sukses itu harus jadi dokter, kalau jadi manajer pasti bahagia, dan segudang opini lainnya. Iya, jadi dokter itu sukses kok. Tapi apakah semua orang bahagia dengan profesi itu?
Ada lagi orang beropini "jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) itu suksesnya bakal kalah sama yang aktif organisasi.", "buat apa ikut begituan, mending ikut yang itu tuh, lu bisa jalan-jalan, dapat temen banyak, dapet duit lagi" atau opini "kok bego banget sih gak mau coba tes itu. Kalau lulus kan enak, langsung kerja, gaji banyak". Iya, mungkin menurut kalian pilihan yang kalian sayangkan itu lebih menguntungkan. Namun apakah orang yang menjalaninya akan merasa bahagia dengan pilihan itu?
Saya adalah seorang pegiat sosial dan organisasi, dan berusaha menurunkan hal itu pada adik saya sendiri. Ketika adik saya punya kesempatan untuk ikut suatu kegiatan organisasi yang cukup menguntungkan, dia lebih memilih ikut seleksi Voli untuk lomba mewakili daerah yang diadakan bersamaan dengan acara diatas. "Voli itu impianku dari dulu mbak. Voli itu bagian dari cita-citaku. Ini kesempatan emas, gak mungkin dilewatkan" katanya.
Bodoh? Secara logika dia memang bodoh, sampai memilih seleksi voli yang belum tentu dia sukses dengan meninggalkan kegiatan yang lebih menguntungkan seperti mendapat ilmu, relasi, uang, dan segudang kenyamanan lainnya. Tapi ingat, hidup itu bukan sekedar materi. Untuk apa hidup jika meninggalkan mimpimu yang harus dituntaskan?
Untuk orang yang kerap meremehkan kehidupan orang lain karena tidak sukses seperti kalian, yakinlah ada banyak cara untuk bahagia. Tidak cuma seperti kalian. Mungkin dia hanya sibuk mengutak-atik komputer atau hanya sibuk menjalani rutinitasnya sebagai guru yang terus berhadapan dengan anak-anak yang mungkin susah diatur. Namun jika itu bahagianya, kenapa kalian meremehkannya?
Untuk orang yang sedang menjalani hidup sukses dan bahagianya, fokuslah dengan pilihan kalian, selama itu baik untuk kalian. Tidak perlu memikirkan cemooh orang lain, karena definisi bahagia setiap kita itu berbeda :)
Sepertinya setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang ini.
Sukses dan bahagia versi teman saya adalah ketika berhasil menjadi seorang Taruna atau lulus di salah satu perguruan tinggi kedinasan. Seorang teman lainnya menganggap sukses dan bahagia adalah ketika bisa mendirikan startup sendiri. Ada lagi yang mengganggap sukses dan bahagia adalah ketika bisa travelling ke tempat-tempat impiannya. Saya sendiri menganggap sukses dan bahagia itu sederhana, bisa dikelilingi buku-buku yang disuka dan bisa menjalani rutinitas sesuai dengan passion.
Well, ada banyak hal yang disepakati orang sebagai sesuatu hal yang sukses dan membahagiakan, seperti menjadi PNS, TNI, dokter, dan sebagainya. namun tidak semua orang punya keinginan yang sama kan?
Kalau begitu, kenapa masih saja ada orang yang meremehkan sesuatu yang sedang orang lain jalankan? Kenapa masih ada orang tua yang memaksa anaknya untuk menjadi dokter, PNS di kementerian keuangan, Polisi, atau segudang profesi lainnya, padahal dengan menjadi fotografer atau pekerja seni si anak bisa cukup merasa sukses dan bahagia?
Ya, masalah orang-orang sekarang adalah suka mengeneralisasikan sesuatu hal. Sukses itu harus jadi dokter, kalau jadi manajer pasti bahagia, dan segudang opini lainnya. Iya, jadi dokter itu sukses kok. Tapi apakah semua orang bahagia dengan profesi itu?
Ada lagi orang beropini "jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) itu suksesnya bakal kalah sama yang aktif organisasi.", "buat apa ikut begituan, mending ikut yang itu tuh, lu bisa jalan-jalan, dapat temen banyak, dapet duit lagi" atau opini "kok bego banget sih gak mau coba tes itu. Kalau lulus kan enak, langsung kerja, gaji banyak". Iya, mungkin menurut kalian pilihan yang kalian sayangkan itu lebih menguntungkan. Namun apakah orang yang menjalaninya akan merasa bahagia dengan pilihan itu?
Saya adalah seorang pegiat sosial dan organisasi, dan berusaha menurunkan hal itu pada adik saya sendiri. Ketika adik saya punya kesempatan untuk ikut suatu kegiatan organisasi yang cukup menguntungkan, dia lebih memilih ikut seleksi Voli untuk lomba mewakili daerah yang diadakan bersamaan dengan acara diatas. "Voli itu impianku dari dulu mbak. Voli itu bagian dari cita-citaku. Ini kesempatan emas, gak mungkin dilewatkan" katanya.
Bodoh? Secara logika dia memang bodoh, sampai memilih seleksi voli yang belum tentu dia sukses dengan meninggalkan kegiatan yang lebih menguntungkan seperti mendapat ilmu, relasi, uang, dan segudang kenyamanan lainnya. Tapi ingat, hidup itu bukan sekedar materi. Untuk apa hidup jika meninggalkan mimpimu yang harus dituntaskan?
Untuk orang yang kerap meremehkan kehidupan orang lain karena tidak sukses seperti kalian, yakinlah ada banyak cara untuk bahagia. Tidak cuma seperti kalian. Mungkin dia hanya sibuk mengutak-atik komputer atau hanya sibuk menjalani rutinitasnya sebagai guru yang terus berhadapan dengan anak-anak yang mungkin susah diatur. Namun jika itu bahagianya, kenapa kalian meremehkannya?
Untuk orang yang sedang menjalani hidup sukses dan bahagianya, fokuslah dengan pilihan kalian, selama itu baik untuk kalian. Tidak perlu memikirkan cemooh orang lain, karena definisi bahagia setiap kita itu berbeda :)
Jumat, 07 Juli 2017
Kenapa Harus Saling Membenci?
Tulisan ini muncul karena tulisan salah satu teman saya tentang Ramadhan. Jujur saja, tulisan ini membuat saya terharu, membuka perspektif baru dalam pikiran saya. Dalam tulisan itu, ia mengemukakan pandangannya tentang Ramadhan. Bagaimana Ramadhan bisa menyatukan yang jauh dan yang sibuk mengejar mimpi melalui tradisi buka bersama, serta menawarkan kesederhanaan yang ‘mewah’ dalam tradisi mudik.
Yang membuat bathin saya terenyuh adalah teman saya, yang non-muslim, bisa punya perspektif yang begitu menyejukkan tentang Ramadhan. Betapa hal yang membuat saya berpikir “ah, iya juga” seperti ini begitu sulit saya temukan. Karena secara tidak langsung, dia juga merasakan manfaat ramadhan itu sendiri.
Lalu pertanyaan ini muncul; kenapa antar penganut agama harus saling membenci? Padahal satu sama lain bisa merasakan manfaatnya.
Jujur saja, saya sering merasa heran dengan orang-orang yang sering mengagung-agungkan agamanya, namun sekaligus bisa menjelek-jelekkan agama lain. Oke, mengklaim bahwa agama masing-masing merupakan agama yang paling benar adalah wajar, namun tidak menjadikan kita bisa mengolok-olok agama lain. Karena sederhananya begini; bagaimana mungkin kalian bisa mengolok-olok agama lain jika kalian masih ikut libur saat hari besar mereka?
Kenapa harus saling membenci, ketika yang non-muslim bisa ikut merasakan kehangatan berkumpul bersama teman-teman saat buka bersama sekaligus bisa merasakan hari libur dan mudik saat Hari Raya Idul Fitri? Atau bahkan bisa ikut mencicipi Nastar dan Kastengel yang sangat disukai di rumah teman-teman yang muslim.
Kenapa harus saling membenci, ketika yang muslim, Hindu, dan Budha bahkan senang saat tanggal di kalender tercetak merah yang berarti libur sehari atau dua hari karena peringatan Hari Natal dan Kenaikan Isa Almasih sehingga bisa liburan ke tempat wisata bersama keluarga?
Kenapa harus saling membenci, ketika kita bisa tersenyum lega karena menemukan tanggal dimana kita presentasi ternyata tercetak merah karena Hari Nyepi atau Imlek, sehingga kita bisa menambah hari persiapan presentasi kita?
Think again. Saya bukan bersikap pluralis, namun ini realita.
Toh, umat agama lain tidak diusir saat masyarakat pulau bali yang mayoritas Hindu sedang nyepi. Toh umat muslim tidak melarang teman-temannya yang non-muslim untuk ikut buka bersama. Toh umat Kristiani tidak menentang saat umat muslim ikut libur ketika Natal tiba.
Jika kalian meributkan masalah perayaan, silahkan kembali ke ajaran agama masing-masing. Jika Islam melarang umat muslim ikut merayakan Tahun Baru atau Imlek, ya sudah. Kalian hanya perlu tidak merayakannya, bukan menyuruh umat yang merayakan itu membubarkan perayaannya. Begitu juga dengan agama lain. Kecuali ternyata agama dan kehidupan beragama kalian diusik, maka tidak ada salahnya menuntut keadilan. Sederhana, bukan?
Iya, tugas masing-masing penganut agama adalah menjalankan perintah agamanya dan menjauhi larangannya dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, bukan mengusik ajaran agama lain. Bukan begitu? :)
Yang membuat bathin saya terenyuh adalah teman saya, yang non-muslim, bisa punya perspektif yang begitu menyejukkan tentang Ramadhan. Betapa hal yang membuat saya berpikir “ah, iya juga” seperti ini begitu sulit saya temukan. Karena secara tidak langsung, dia juga merasakan manfaat ramadhan itu sendiri.
Lalu pertanyaan ini muncul; kenapa antar penganut agama harus saling membenci? Padahal satu sama lain bisa merasakan manfaatnya.
Jujur saja, saya sering merasa heran dengan orang-orang yang sering mengagung-agungkan agamanya, namun sekaligus bisa menjelek-jelekkan agama lain. Oke, mengklaim bahwa agama masing-masing merupakan agama yang paling benar adalah wajar, namun tidak menjadikan kita bisa mengolok-olok agama lain. Karena sederhananya begini; bagaimana mungkin kalian bisa mengolok-olok agama lain jika kalian masih ikut libur saat hari besar mereka?
Kenapa harus saling membenci, ketika yang non-muslim bisa ikut merasakan kehangatan berkumpul bersama teman-teman saat buka bersama sekaligus bisa merasakan hari libur dan mudik saat Hari Raya Idul Fitri? Atau bahkan bisa ikut mencicipi Nastar dan Kastengel yang sangat disukai di rumah teman-teman yang muslim.
Kenapa harus saling membenci, ketika yang muslim, Hindu, dan Budha bahkan senang saat tanggal di kalender tercetak merah yang berarti libur sehari atau dua hari karena peringatan Hari Natal dan Kenaikan Isa Almasih sehingga bisa liburan ke tempat wisata bersama keluarga?
Kenapa harus saling membenci, ketika kita bisa tersenyum lega karena menemukan tanggal dimana kita presentasi ternyata tercetak merah karena Hari Nyepi atau Imlek, sehingga kita bisa menambah hari persiapan presentasi kita?
Think again. Saya bukan bersikap pluralis, namun ini realita.
Toh, umat agama lain tidak diusir saat masyarakat pulau bali yang mayoritas Hindu sedang nyepi. Toh umat muslim tidak melarang teman-temannya yang non-muslim untuk ikut buka bersama. Toh umat Kristiani tidak menentang saat umat muslim ikut libur ketika Natal tiba.
Jika kalian meributkan masalah perayaan, silahkan kembali ke ajaran agama masing-masing. Jika Islam melarang umat muslim ikut merayakan Tahun Baru atau Imlek, ya sudah. Kalian hanya perlu tidak merayakannya, bukan menyuruh umat yang merayakan itu membubarkan perayaannya. Begitu juga dengan agama lain. Kecuali ternyata agama dan kehidupan beragama kalian diusik, maka tidak ada salahnya menuntut keadilan. Sederhana, bukan?
Iya, tugas masing-masing penganut agama adalah menjalankan perintah agamanya dan menjauhi larangannya dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, bukan mengusik ajaran agama lain. Bukan begitu? :)
Senin, 03 Juli 2017
Lagi-lagi Moral...
Mari kita tinggalkan sejenak pro dan kontra mengenai konten Reza Arap Oktovian yang saya bahas pada postingan sebelumnya.
Beberapa tahun terakhir marak sekali kita gembor-gemborkan pendidikan moral dan etika. Seperti yang saya katakan sebelumnya, seluruh pihak dibutuhkan sumbangsihnya dalam menggalakkan hal ini.
Mirisnya, ketika para orang tua meresahkan anak-anaknya yang menjadi nakal karena pengaruh youtube dan teknologi, mereka tidak menyadari, bahwa potensi terbesar si anak menjadi kurang beretika lebih mungkin terjadi karena orang tuanya.
Saya salah satu pelanggan KRDI (sejenis KRL) dengan rute perjalanan Binjai-medan dan sebaliknya. Kereta api hanya satu, dan Kereta itulah yang bolak balik mengantar penumpang. Otomatis, ketika penumpang turun maka sudah ada penumpang lain yang berdiri dengan manis didepan pintu, siap naik KRDI.
Ada saat dimana saya merasa miris sekali. Bukan terjadi satu-dua kali, namun berulang kali.
Sering saya lihat ibu-ibu calon penumpang yang akan naik memanfaatkan anak yang dibawanya (kemungkinan berusia 6-11 tahun) agar si ibu dan keluarganya yang lain bisa mendapat tempat duduk dengan cara menjagakan tempat duduk tersebut (sistemnya seperti KRL di Jakarta, jika cepat maka akan dapat tempat duduk). Sebelum orang-orang turun dari kereta, si ibu mendorong anaknya untuk nyempil dan naik keatas kereta duluan, sebelum semua orang turun, dan berkata "dek naik dek cepat. Cari tempat duduk ya. Empat."
:((
Selain termasuk eksploitasi anak, secara tidak langsung si ibu juga mengajarkan anak untuk tidak sabaran dan menyerobot. Kemungkinan si anak akan terbiasa menyerobot tanpa menunggu orang-orang yang wajib diberikan jalan turun terlebih dahulu. Maka bisa jadi, si anak tumbuh menjadi orang-orang dewasa lainnya yang banyak saya temui saat naik KRDI; menyerobot untuk masuk tanpa memberikan kesempatan orang lain untuk turun dahulu dari kereta. Orang dewasa yang bertipe seperti ini mulai banyak. Banyak sekali. Ini berbahaya. Ketika ada satu orang yang mulai melakukan itu, maka yang lainnya ikut menyerobot. Alhasil orang yang turun dan naik akan saling dorong-dorongan. Kalau sudah begitu tinggal tunggu siapa yang akan jatuh terdorong.
Para petugas Kereta Api saya rasa sudah capek mengingatkan. Sampai tak segan untuk menarik baju orang-orang yang berniat menyerobot masuk. Mungkin karena hal itu, para ibu-ibu tadi menyuruh anaknya untuk menyerobot.
Ya memang si anak nyempil-nyempil sehingga lebih mudah dan dia ga akan terdorong. Tapi pembiasaan seperti itu bisa terbawa olehnya hingga dewasa.
Padahal jika orangtuanya paham pentingnya budaya santun dan etika, dia akan mengajarkan anaknya untuk antre dan menunggu dengan sabar hingga tidak ada orang yang turun lagi. Itu akan menjadi pembelajaran yang bagus sekali untuk anak. Belum lagi etika didalam transportasi umum, antre beli tiket, dsb. Wah, banyak sekali sesuatu yang bisa diajarkan ke anak. Sangat disayangkan sebenarnya.
seniorku pernah bilang "sebenarnya, orang tua berkewajiban mendidik anaknya secara maksimal dari awal hingga ia akil baligh". Jadi sangat baik jika segala aspek kehidupan kita diusahakan berunsur baik, sehingga bisa jadi media pendidikan untuk anak-anak kita.
Maaf, mungkin saya lancang menulis ini. Padahal saya belum jadi orang tua. Nikah aja belum. Masih 19 tahun. Tapi bagaimana lagi, bukankah ingat mengingatkan tidak berbatas umur?
semoga bermanfaat!
Beberapa tahun terakhir marak sekali kita gembor-gemborkan pendidikan moral dan etika. Seperti yang saya katakan sebelumnya, seluruh pihak dibutuhkan sumbangsihnya dalam menggalakkan hal ini.
Mirisnya, ketika para orang tua meresahkan anak-anaknya yang menjadi nakal karena pengaruh youtube dan teknologi, mereka tidak menyadari, bahwa potensi terbesar si anak menjadi kurang beretika lebih mungkin terjadi karena orang tuanya.
Saya salah satu pelanggan KRDI (sejenis KRL) dengan rute perjalanan Binjai-medan dan sebaliknya. Kereta api hanya satu, dan Kereta itulah yang bolak balik mengantar penumpang. Otomatis, ketika penumpang turun maka sudah ada penumpang lain yang berdiri dengan manis didepan pintu, siap naik KRDI.
Ada saat dimana saya merasa miris sekali. Bukan terjadi satu-dua kali, namun berulang kali.
Sering saya lihat ibu-ibu calon penumpang yang akan naik memanfaatkan anak yang dibawanya (kemungkinan berusia 6-11 tahun) agar si ibu dan keluarganya yang lain bisa mendapat tempat duduk dengan cara menjagakan tempat duduk tersebut (sistemnya seperti KRL di Jakarta, jika cepat maka akan dapat tempat duduk). Sebelum orang-orang turun dari kereta, si ibu mendorong anaknya untuk nyempil dan naik keatas kereta duluan, sebelum semua orang turun, dan berkata "dek naik dek cepat. Cari tempat duduk ya. Empat."
:((
Selain termasuk eksploitasi anak, secara tidak langsung si ibu juga mengajarkan anak untuk tidak sabaran dan menyerobot. Kemungkinan si anak akan terbiasa menyerobot tanpa menunggu orang-orang yang wajib diberikan jalan turun terlebih dahulu. Maka bisa jadi, si anak tumbuh menjadi orang-orang dewasa lainnya yang banyak saya temui saat naik KRDI; menyerobot untuk masuk tanpa memberikan kesempatan orang lain untuk turun dahulu dari kereta. Orang dewasa yang bertipe seperti ini mulai banyak. Banyak sekali. Ini berbahaya. Ketika ada satu orang yang mulai melakukan itu, maka yang lainnya ikut menyerobot. Alhasil orang yang turun dan naik akan saling dorong-dorongan. Kalau sudah begitu tinggal tunggu siapa yang akan jatuh terdorong.
Para petugas Kereta Api saya rasa sudah capek mengingatkan. Sampai tak segan untuk menarik baju orang-orang yang berniat menyerobot masuk. Mungkin karena hal itu, para ibu-ibu tadi menyuruh anaknya untuk menyerobot.
Ya memang si anak nyempil-nyempil sehingga lebih mudah dan dia ga akan terdorong. Tapi pembiasaan seperti itu bisa terbawa olehnya hingga dewasa.
Padahal jika orangtuanya paham pentingnya budaya santun dan etika, dia akan mengajarkan anaknya untuk antre dan menunggu dengan sabar hingga tidak ada orang yang turun lagi. Itu akan menjadi pembelajaran yang bagus sekali untuk anak. Belum lagi etika didalam transportasi umum, antre beli tiket, dsb. Wah, banyak sekali sesuatu yang bisa diajarkan ke anak. Sangat disayangkan sebenarnya.
seniorku pernah bilang "sebenarnya, orang tua berkewajiban mendidik anaknya secara maksimal dari awal hingga ia akil baligh". Jadi sangat baik jika segala aspek kehidupan kita diusahakan berunsur baik, sehingga bisa jadi media pendidikan untuk anak-anak kita.
Maaf, mungkin saya lancang menulis ini. Padahal saya belum jadi orang tua. Nikah aja belum. Masih 19 tahun. Tapi bagaimana lagi, bukankah ingat mengingatkan tidak berbatas umur?
semoga bermanfaat!
Wanita Tidak Pernah Salah (?)
(Tulisan ini terinspirasi dari diskusi pendek antara saya dan senior saya)
Pasti sering mendengar kalimat "wanita tidak pernah salah", kan?
Baik di meme, video instagram, bahkan kerap dilontarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana reaksi anda sebagai perempuan? Tersinggung kah? Atau tidak?
Jika tersinggung, maka selamat! Anda akan memahami maksud saya kali ini dengan mudah.
Namun jika anda tidak tersinggung dan cenderung bangga, izinkan saya sedikit menyampaikan pikiran yang cenderung kelewatan ini.
Girls, jika ditanya pendapat saya, saya akan tersinggung dan malu dengan kalimat diatas.
Kenapa?
Mungkin bagi kalian, statement itu hanyalah candaan semata. Namun bagi saya, statement itu punya hal tersirat yang sebenarnya merendahkan perempuan.
Kalimat "wanita tidak pernah salah" menurut saya, tidak merefleksikan bahwa wanita itu sempurna. Tidak. Kita semua pasti sadar bahwa tidak ada makhluk yang sempurna. Kalimat itu malah menyiratkan bahwa wanita adalah makluk yang egois, bersumbu pendek, tidak bisa dibantah, dan berpikiran sempit. Kalimat itu terasa seperti sarkasme. Sadarkah?
Senior saya berkata begini "Ada masa ketika kita akan merasa bahwa dipahami lebih penting daripada dipuaskan".
Girls, pernahkan kita berempati pada laki-laki yang selalu kita bantah dengan kalimat "wanita tidak pernah salah"?
Mereka juga manusia. Kita juga. Maka dipahami merupakan suatu hal yang tidak bisa diabaikan. Ketika bantahan kita hanya sekedar "wanita tidak pernah salah", itu artinya kita tidak memahami mereka sebagai sesama manusia. Tidak adakah argumen yang lebih elegan selain itu?
Bantahan cetek itu hanya akan membuat orang berpikir bahwa kita hanyalah perempuan individualis serta berpikiran sempit.
Girls, laki-laki...maaf ralat,
Manusia tidak akan betah dengan orang yang berpikiran sempit.
Tanyakan pada semua orang. Mereka akan cenderung merasa nyaman dengan orang yang bisa menyikapi opini orang lain dengan baik, dan juga yang bisa menyampaikan opininya dengan baik.
Apalagi laki-laki, yang sudah didesain dengan ego.
Senior saya bahkan sempat bilang "kalau aku nikah sama cewek yang gak bisa diajak terbuka untuk berdialog, ah menderita kali lah".
Girls, kalian boleh tetap konservatif. Boleh. Tapi tetaplah pada porsinya. Terbuka dengan opini-opini yang ada akan membuatmu menjadi orang dengan segudang pelajaran. Hasilnya kamu bisa lebih baik lagi dengan mengintropeksi dirimu sendiri berdasarkan opini tersebut.
Sadarilah, kita manusia yang pasti ada alpa dan tak luput dari kesalahan. Pembenaran yang dilakukan laki-laki atas tindakanmu (dengan mengatakan "iya deh, wanita emang ga pernah salah) akan menjerumuskanmu.
Girls, percaya deh. Betapa beruntungnya jika kalian punya pasangan yang mau dan bisa menyampaikan hal-hal yang perlu diluruskan diantara hubungan kalian dengan baik. Kenapa? Artinya dia menghormati dan menyayangimu. Ia menganggap bahwa kamu adalah perempuan cerdas yang bijak dalam menanggapi opini.
Laki-laki yang takut pada wanita-nya sehingga menghindari penyampaian pendapat tidak akan membuatmu maju.
Kita sebagai perempuan dan ibu (atau calon ibu) punya kewajiban sebagai madrasah pertama bagi anak-anak kita, dimana mereka akan belajar banyak hal dari kita. Maka urgensi kecerdasan untuk para perempuan sebagian besar demi membentuk anak-anak yang cerdas pula. Cerdas itu bukan hanya perihal ilmu pedagogi, namun juga dalam pola pikir. Kenapa pendidikan juga penting bagi perempuan? Karena pendidikan merupakan hal yang berpengaruh dalam pembentukan pola pikir.
Jika mindset kita dalam menyikapi opini pasangan saja sudah sempit, bagaimana kita bisa menyikapi opini-opini anak-anak kita? Oh tidak. Jangan sampai anak-anakmu terbentuk dalam pendidikan otoriter dimana si anak sulit menyampaikan pemikirannya. Pola pikirnya juga tidak akan berkembang.
Jadi intinya, mendengarkan dan memahami itu penting. Lupakan tagar "wanita tidak pernah salah" itu. Tidak ada yang salah dalam sebuah momen "kesalahan". Salah itu bagian dari proses, asal kita bisa menyikapinya sebagai pembelajaran.
Pasti sering mendengar kalimat "wanita tidak pernah salah", kan?
Baik di meme, video instagram, bahkan kerap dilontarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana reaksi anda sebagai perempuan? Tersinggung kah? Atau tidak?
Jika tersinggung, maka selamat! Anda akan memahami maksud saya kali ini dengan mudah.
Namun jika anda tidak tersinggung dan cenderung bangga, izinkan saya sedikit menyampaikan pikiran yang cenderung kelewatan ini.
Girls, jika ditanya pendapat saya, saya akan tersinggung dan malu dengan kalimat diatas.
Kenapa?
Mungkin bagi kalian, statement itu hanyalah candaan semata. Namun bagi saya, statement itu punya hal tersirat yang sebenarnya merendahkan perempuan.
Kalimat "wanita tidak pernah salah" menurut saya, tidak merefleksikan bahwa wanita itu sempurna. Tidak. Kita semua pasti sadar bahwa tidak ada makhluk yang sempurna. Kalimat itu malah menyiratkan bahwa wanita adalah makluk yang egois, bersumbu pendek, tidak bisa dibantah, dan berpikiran sempit. Kalimat itu terasa seperti sarkasme. Sadarkah?
Senior saya berkata begini "Ada masa ketika kita akan merasa bahwa dipahami lebih penting daripada dipuaskan".
Girls, pernahkan kita berempati pada laki-laki yang selalu kita bantah dengan kalimat "wanita tidak pernah salah"?
Mereka juga manusia. Kita juga. Maka dipahami merupakan suatu hal yang tidak bisa diabaikan. Ketika bantahan kita hanya sekedar "wanita tidak pernah salah", itu artinya kita tidak memahami mereka sebagai sesama manusia. Tidak adakah argumen yang lebih elegan selain itu?
Bantahan cetek itu hanya akan membuat orang berpikir bahwa kita hanyalah perempuan individualis serta berpikiran sempit.
Girls, laki-laki...maaf ralat,
Manusia tidak akan betah dengan orang yang berpikiran sempit.
Tanyakan pada semua orang. Mereka akan cenderung merasa nyaman dengan orang yang bisa menyikapi opini orang lain dengan baik, dan juga yang bisa menyampaikan opininya dengan baik.
Apalagi laki-laki, yang sudah didesain dengan ego.
Senior saya bahkan sempat bilang "kalau aku nikah sama cewek yang gak bisa diajak terbuka untuk berdialog, ah menderita kali lah".
Girls, kalian boleh tetap konservatif. Boleh. Tapi tetaplah pada porsinya. Terbuka dengan opini-opini yang ada akan membuatmu menjadi orang dengan segudang pelajaran. Hasilnya kamu bisa lebih baik lagi dengan mengintropeksi dirimu sendiri berdasarkan opini tersebut.
Sadarilah, kita manusia yang pasti ada alpa dan tak luput dari kesalahan. Pembenaran yang dilakukan laki-laki atas tindakanmu (dengan mengatakan "iya deh, wanita emang ga pernah salah) akan menjerumuskanmu.
Girls, percaya deh. Betapa beruntungnya jika kalian punya pasangan yang mau dan bisa menyampaikan hal-hal yang perlu diluruskan diantara hubungan kalian dengan baik. Kenapa? Artinya dia menghormati dan menyayangimu. Ia menganggap bahwa kamu adalah perempuan cerdas yang bijak dalam menanggapi opini.
Laki-laki yang takut pada wanita-nya sehingga menghindari penyampaian pendapat tidak akan membuatmu maju.
Kita sebagai perempuan dan ibu (atau calon ibu) punya kewajiban sebagai madrasah pertama bagi anak-anak kita, dimana mereka akan belajar banyak hal dari kita. Maka urgensi kecerdasan untuk para perempuan sebagian besar demi membentuk anak-anak yang cerdas pula. Cerdas itu bukan hanya perihal ilmu pedagogi, namun juga dalam pola pikir. Kenapa pendidikan juga penting bagi perempuan? Karena pendidikan merupakan hal yang berpengaruh dalam pembentukan pola pikir.
Jika mindset kita dalam menyikapi opini pasangan saja sudah sempit, bagaimana kita bisa menyikapi opini-opini anak-anak kita? Oh tidak. Jangan sampai anak-anakmu terbentuk dalam pendidikan otoriter dimana si anak sulit menyampaikan pemikirannya. Pola pikirnya juga tidak akan berkembang.
Jadi intinya, mendengarkan dan memahami itu penting. Lupakan tagar "wanita tidak pernah salah" itu. Tidak ada yang salah dalam sebuah momen "kesalahan". Salah itu bagian dari proses, asal kita bisa menyikapinya sebagai pembelajaran.
Selasa, 23 Mei 2017
MISS INTERNET CIPTAKAN WAWASAN POSITIF BAGI GENERASI MILLENIAL
Internet sehat adalah salah satu program dari pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk mensosialisasikan penggunaan internet secara sehat dan aman. Sosialisasi dalam penggunaan internet secara sehat dan aman akan melibatkan para orang dewasa serta orang tua untuk mengawasi anak-anaknya. Diharapkan dengan kemajuan teknologi yang ada dapat menyumbangkan wawasan positif untuk generasi millenial yang bermoral dan berbudi pekerti luhur.
Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta orang dan berada pada peringkat ke-8 dunia. Dari jumlah tersebut, 80 persen di antaranya adalah remaja berusia 15-19 tahun. Dengan jumlah pengguna internet yang mayoritas menggunakan jejaring sosial dan berbagai akses informasi maka sangat diperlukan edukasi yang tepat mengenai internet itu sendiri.
Kemajuan di bidang informasi tersebut pastinya memiliki dampak positif dan negatif tersendiri. Dampak positifnya adalah memberikan kemudahan mencari informasi yang dibutuhkan oleh penggunaannya. Tetapi sebaliknya, dampak negatif dari internet juga sangat harus diperhatikan. Contohnya adalah pengaruh konten negatif yang dijumpai dalam internet yang berupa penipuan, pornografi dan kejahatan dunia maya. Hal tersebut menjadi alasan mengapa diperlukan sosialisasi dan pengenalan mengenai bagaimana perlunya memperkenalkan penggunaan internet secara sehat dan aman sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga, masyarakat terkhusus untuk anak-anak dan remaja dapat mengatasi bahaya yang ditampilkan oleh konten-konten negatif tersebut.
Dengan terus memberikan sosialaisasi tentang internet dan juga wawasan positif yang terkandung didalamnya, para generasi muda diharapkan memiliki pengetahuan yang luas dan mengembangkan wawasan yang mereka miliki. Salah satu orang yang terus menggalakkan tentang wawasan positif dari internet ialah Sylvy Dhea Angesti. Gadis kelahiran 20 tahun yang lalu ini merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2016 di Universitas Sumatera Utara yang saat ini menyadang gelar Miss Internet 2017 perwakilan Sumatera Utara. Pada bulan Januari 2017 yang lalu Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) telah melaksanakan kontes pemilihan Miss Internet Sumatera Utara. APJII sendiri memiliki visi misi untuk menyampaikan pesan bahwa wanita millenial Indonesia memainkan peranan penting dalam pertumbuhan Industri Internet di tengah-tengah masyarakat dan budaya Indonesia. Selain dituntut untuk berpenampilan menarik, seorang Miss Internet juga harus bisa menjalankan visi misi tersebut guna menyukseskan program pemerintah.
Menjadi Miss Internet Sumatera Utara 2017, Dhea terus fokus melakukan kegiatan-kegiatan sosial untuk menyadarkan para penerus bangsa tentang betapa pentingnya internet sehat. Hal tersebut sejalan dengan tujuan dari ajang modelling tersebut. Terkadang, dalam tampilan internet, terdapat berbagi iklan yang seharusnya ditampilkan untuk anak usia tertentu. Tetapi, dengan adanya sosialisasi yang dilakukan oleh Dhea selaku Miss Internet Sumatera Utara 2017, menyatakan bahwa internet bisa menciptakan wawasan positif untuk generasi penerus bangsa dengan cara memfilter berbagai informasi yang ditampilkan disana.
Dengan kemampuan public sepaking yang ia miliki, ia berkesempatan berbagi pengalaman dan informasi seputar dunia internet yang diketahui olehnya. Dhea saat ini memiliki tanggung jawab untuk terus mensosialisasikan tentang internet dan wawasan positif yang didapat melalui internet kebeberapa sekolah di dalam maupun di luar kota Medan. Dengan terus mensosialisasikan penggunaan internet sehat ke beberapa sekolah, diharapkan agar para generasi millenial dapat menyaring berbagai macam informasi yang mereka temukan saat menggunakan internet, dan hanya menyimpan hal-hal yang positif dan bermanfaat.
“Tidak dapat dipungkiri bahwa internet memiliki berbagai dampak positif yang berguna sebagai pendukung pendidikan anak-anak era milenial ini. Mereka dapat memenuhi akan keingintahuan mereka dengan membuka bahan bacaan, penelitian dan referensi serta lainnya” tutur Dhea.
Selanjutnya dengan pengetahuan yang mereka miliki lalu dapat mengembangkannya kedalam kehidupan mereka sendiri. Tetapi dalam penggunaan internet sudah seharusnya mendapat pendampingan oleh orang tua dan sekolah.“Selain itu masyarakat juga perlu untuk selalu cermat dalam menyikapi segala dampak yang didapatkan saat para remaja mengakses internet tersebut, dan juga selalu sigap dalam menangani kasus-kasus kejahatan yang ada di internet seperti penipuan, pornografi dan kejahatan dunia maya dengan melaporkan kepada pihak yang berwajib agar dapat ditindak lanjuti dan bisa membuat kemajuan untuk wawasan positif untuk generasi bangsa” tambahnya.
Jumat, 21 April 2017
Sudahkah Kita Memaknai Kartini dengan Benar?
Hari ini, 21 April, seluruh Indonesia memperingati hari kartini. hampir seluruhnya. bahkan banyak gift dan promo yang ditawarkan beberapa gerai untuk wanita. Ada kopi gratis, makanan gratis, bahkan bensin gratis 1 liter, seperti yang baru saya lihat saat dalam perjalanan ke kampus. tentu, itu bagus sekali. dan patut di apresiasi, mengingat tahun-tahun yang lalu belum ada yang seperti itu.
.tapi ada satu hal yang muncul di benak saya. sebenarnya kenapa sih hari kartini dirayakan?
.
setelah saya googling, saya dapat kesimpulan bahwa hari kartini dirayakan untuk "mengenang jasa ibu kartini dalam perjuangannya membela hak wanita".
kalau ditanya, saya setuju kok sama peringatan hari kartini ini. bukankah kita sebagai bangsa yang baik harus ingat sejarahnya?
tapi yang membuat saya menelaah kembali, apakah cara kita memperingati dan merayakannya sudah benar?
menurut saya pribadi, cara mengenang ibu kartini bukan hanya dengan memperingatinya, lalu ramai-ramai memposting foto bertema kartini dengan caption "selamat hari kartini, untuk wanita-wanita hebat". bukan. bukan pula dengan memberi gratis ini itu saat hari kartini, padahal realitanya, apa yang diperjuangkan ibu kartini selama ini belum kita teruskan dan realisasikan dengan baik.
lihat, masih saja ada stereotip ini dan itu yang merendahkan martabat perempuan. lihat, masih saja ada pelecehan terhadap perempuan, baik itu kekerasan fisik, maupun pelecehan seksual. lihat, masih saja ada masyarakat yang berfikir bahwa "ah, perempuan gak perlu sekolah tinggi-tinggi lah. kan nanti kerjanya mengurus suami, anak dan rumah". apakah kita masih bisa mengucapkan selamat hari kartini disaat kita sendiri masih mengabaikan nilai-nilai yang diperjuangkan ibu kartini?
mari kita kembali belajar. yang saya tangkap (silahkan nanti tambahkan lagi), ibu kartini tergerak hatinya untuk membela kaum perempuan, karena masa itu perempuan dinomorduakan, dibatasi pergerakannya,serta tidak dibolehkan bersekolah. hidupnya hanya seputar dapur, sumur, dan kasur. perlakuan rendah pun kerap diterima perempuan. dijadikan gundik, ditelantarkan saat dianggap tidak berguna lagi, serta banyak lagi yang diterima petempuan masa itu. Lalu munculah ibu kartini dengan gerakan emansipasi wanita. Ia mengungkapkan gagasan-gagasannya pada teman Belanda-nya tentang keadilan gender, serta mendirikan sekolah untuk para pempuan pada masa itu.
maka saya rasa, tidak salah saya katakan bahwa ibu kartini pun mengharapkan perjuangannya bisa terus dilanjutkan oleh generasinya, untuk mewujudkan keadilan antara laki-laki dan perempuan. bukan dengan peragaan kebaya maupun kopi atau bensin gratis. tapi dengan gagasan, dan implementasi kebijakan yang berbasis keadilan gender.
.
Untuk para laki-laki, jika kalian benar mengapresiasi hari kartini ini, maka ikrarkanlah dalam hati kalian untuk menerapkan nilai-nilai keadilan bagi teman seiring kalian, yaitu perempuan. jangan lecehkan baik dengan perkataan maupun perbuatan. jika niat kalian ingin menegur dan mengingatkan kami, perempuan, yang terkadang alpa ini, tegurlah dengan bijak dan penuh kasih sayang.
wanita bukan dari tulang kaki, sehingga tidak pantas dirinya diinjak-injak. bukan pula dari tulang kepala, sehingga ia bukan untuk diunggulkan dan dipuja. tapi wanita, tercipta dari rusuk kiri. dekat kehati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi.
maka saya rasa, tidak salah saya katakan bahwa ibu kartini pun mengharapkan perjuangannya bisa terus dilanjutkan oleh generasinya, untuk mewujudkan keadilan antara laki-laki dan perempuan. bukan dengan peragaan kebaya maupun kopi atau bensin gratis. tapi dengan gagasan, dan implementasi kebijakan yang berbasis keadilan gender.
.
Untuk para laki-laki, jika kalian benar mengapresiasi hari kartini ini, maka ikrarkanlah dalam hati kalian untuk menerapkan nilai-nilai keadilan bagi teman seiring kalian, yaitu perempuan. jangan lecehkan baik dengan perkataan maupun perbuatan. jika niat kalian ingin menegur dan mengingatkan kami, perempuan, yang terkadang alpa ini, tegurlah dengan bijak dan penuh kasih sayang.
wanita bukan dari tulang kaki, sehingga tidak pantas dirinya diinjak-injak. bukan pula dari tulang kepala, sehingga ia bukan untuk diunggulkan dan dipuja. tapi wanita, tercipta dari rusuk kiri. dekat kehati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi.
pun untuk para wanita, ingatlah, ibu kartini berjuang bukan untuk membebaskan kita sebebas bebasnya, sehingga mengabaikan kewajiban dan kodrat kita sebagai wanita. ibu kartini berjuang demi keadilan. bukan kesetaran. maka kita tidak perlu menuntut kesetaraan,yang jika dipikir-pikir malah merugikan kita sebagai wanita (bayangkan, kita tidak diberikan cuti hamil dan melahirkan seperti laki-laki. atau laki-laki ikut diberikan cuti hamil dan melahirkan seperti perempuan. lucu bukan?). maka yang perlu kita cari adalah keadilan. karena keadilan sesuai porsi, kemampuan dan keadaan jauh lebih baik dari kesetaraan.
keadilan meliputi hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik, perlindungan, serta perlakuan yang baik.
keadilan meliputi hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik, perlindungan, serta perlakuan yang baik.
ya, kita berhak mendapatkan pendidikan seperti laki-laki. karena kita adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita kelak, yang dipercaya akan membentuk generasi hebat berkarakter baik dengan kecerdasan yang baik pula. oleh karena itu, kita perlu bekal ilmu untuk mewujudkan itu, sehingga pentinglah pendidikan bagi kita.
begitu juga dengan perlindungan. akui saja, sekuat apapun, kita butuh laki-laki untuk melindungi dan menenangkan kita disaat kita jatuh, serta teman hidup dan rekan mencintai. itu sudah kodrat kita. seperti yang dikatakan nyai ontosoroh dalam "bumi manusia" karya Pramoedya Ananta Toer: "jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai".
Terakhir, saya ucapkan selamat hari kartini bagi perempuan-perempuan Indonesia. semoga kita bisa memaknai makna hari ini dengan sebenar-benarnya, serta bisa memahami gagasan emansipasi dan keadilan wanita dengan sebenar-benarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

