Sabtu, 08 Juli 2017

Definisi Bahagia (?)

Seperti apa sukses dan bahagia menurut versimu?

Sepertinya setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang ini.

Sukses dan bahagia versi teman saya adalah ketika berhasil menjadi seorang Taruna atau lulus di salah satu perguruan tinggi kedinasan. Seorang teman lainnya menganggap sukses dan bahagia adalah ketika bisa mendirikan startup sendiri. Ada lagi yang mengganggap sukses dan bahagia adalah ketika bisa travelling ke tempat-tempat impiannya. Saya sendiri menganggap sukses dan bahagia itu sederhana, bisa dikelilingi buku-buku yang disuka dan bisa menjalani rutinitas sesuai dengan passion.

Well, ada banyak hal yang disepakati orang sebagai sesuatu hal yang sukses dan membahagiakan, seperti menjadi PNS, TNI, dokter, dan sebagainya. namun tidak semua orang punya keinginan yang sama kan?

Kalau begitu, kenapa masih saja ada orang yang meremehkan sesuatu yang sedang orang lain jalankan? Kenapa masih ada orang tua yang memaksa anaknya untuk menjadi dokter, PNS di kementerian keuangan, Polisi, atau segudang profesi lainnya, padahal dengan menjadi fotografer atau pekerja seni si anak bisa cukup merasa sukses dan bahagia?

Ya, masalah orang-orang sekarang adalah suka mengeneralisasikan sesuatu hal. Sukses itu harus jadi dokter, kalau jadi manajer pasti bahagia, dan segudang opini lainnya. Iya, jadi dokter itu sukses kok. Tapi apakah semua  orang bahagia dengan profesi itu?

Ada lagi orang beropini "jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) itu suksesnya  bakal kalah sama yang aktif organisasi.", "buat apa ikut begituan, mending ikut yang itu tuh, lu bisa jalan-jalan, dapat temen banyak, dapet duit lagi" atau opini "kok bego banget sih gak mau coba tes itu. Kalau lulus kan enak, langsung kerja, gaji banyak". Iya, mungkin menurut kalian pilihan yang kalian sayangkan itu lebih menguntungkan. Namun apakah orang yang menjalaninya akan merasa bahagia dengan pilihan itu?

Saya adalah seorang pegiat sosial dan organisasi, dan berusaha menurunkan hal itu pada adik saya sendiri. Ketika adik saya punya kesempatan untuk ikut suatu kegiatan organisasi yang cukup menguntungkan, dia lebih memilih ikut seleksi Voli untuk lomba mewakili daerah yang diadakan bersamaan dengan acara diatas. "Voli itu impianku dari dulu mbak. Voli itu bagian dari cita-citaku. Ini kesempatan emas, gak mungkin dilewatkan" katanya.

Bodoh? Secara logika dia memang bodoh, sampai memilih seleksi voli yang belum tentu dia sukses dengan meninggalkan kegiatan yang lebih menguntungkan seperti mendapat ilmu, relasi, uang, dan segudang kenyamanan lainnya. Tapi ingat, hidup itu bukan sekedar materi. Untuk apa hidup jika meninggalkan mimpimu yang harus dituntaskan?

Untuk orang yang kerap meremehkan kehidupan orang lain karena tidak sukses seperti kalian, yakinlah ada banyak cara untuk bahagia. Tidak cuma seperti kalian. Mungkin dia hanya sibuk mengutak-atik komputer atau hanya sibuk menjalani rutinitasnya sebagai guru yang terus berhadapan dengan anak-anak yang mungkin susah diatur. Namun jika itu bahagianya, kenapa kalian meremehkannya?

Untuk orang yang sedang menjalani hidup sukses dan bahagianya, fokuslah dengan pilihan kalian, selama itu baik untuk kalian. Tidak perlu memikirkan cemooh orang lain, karena definisi bahagia setiap kita itu berbeda :)

Jumat, 07 Juli 2017

Kenapa Harus Saling Membenci?

Tulisan ini muncul karena tulisan salah satu teman saya tentang Ramadhan. Jujur saja, tulisan ini membuat saya terharu, membuka perspektif baru dalam pikiran saya. Dalam tulisan itu, ia mengemukakan pandangannya tentang Ramadhan. Bagaimana Ramadhan bisa menyatukan yang jauh dan yang sibuk mengejar mimpi melalui tradisi buka bersama, serta menawarkan kesederhanaan yang ‘mewah’ dalam tradisi mudik.

Yang membuat bathin saya terenyuh adalah teman saya, yang non-muslim, bisa punya perspektif yang begitu menyejukkan tentang Ramadhan. Betapa hal yang membuat saya berpikir “ah, iya juga” seperti ini begitu sulit saya temukan. Karena secara tidak langsung, dia juga merasakan manfaat ramadhan itu sendiri.

Lalu pertanyaan ini muncul; kenapa antar penganut agama harus saling membenci? Padahal satu sama lain bisa merasakan manfaatnya.

Jujur saja, saya sering merasa heran dengan orang-orang yang sering mengagung-agungkan agamanya, namun sekaligus bisa menjelek-jelekkan agama lain. Oke, mengklaim bahwa agama masing-masing merupakan agama yang paling benar adalah wajar, namun tidak menjadikan kita bisa mengolok-olok agama lain. Karena sederhananya begini; bagaimana mungkin kalian bisa mengolok-olok agama lain jika kalian masih ikut libur saat hari besar mereka?

Kenapa harus saling membenci, ketika yang non-muslim bisa ikut merasakan kehangatan berkumpul bersama teman-teman saat buka bersama sekaligus bisa merasakan hari libur dan mudik saat Hari Raya Idul Fitri? Atau bahkan bisa ikut mencicipi Nastar dan Kastengel yang sangat disukai di rumah teman-teman yang muslim.

Kenapa harus saling membenci, ketika yang muslim, Hindu, dan Budha bahkan senang saat tanggal di kalender tercetak merah yang berarti libur sehari atau dua hari karena peringatan Hari Natal dan Kenaikan Isa Almasih sehingga bisa liburan ke tempat wisata bersama keluarga?

Kenapa harus saling membenci, ketika kita bisa tersenyum lega karena menemukan tanggal dimana kita presentasi ternyata  tercetak merah karena Hari Nyepi atau Imlek, sehingga kita bisa menambah hari persiapan presentasi kita?

Think again. Saya bukan bersikap pluralis, namun ini realita.

Toh, umat agama lain tidak diusir saat masyarakat pulau bali yang mayoritas Hindu sedang nyepi. Toh umat muslim tidak melarang teman-temannya yang non-muslim untuk ikut buka bersama. Toh umat Kristiani tidak menentang saat umat muslim ikut libur ketika Natal tiba.

Jika kalian meributkan masalah perayaan, silahkan kembali ke ajaran agama masing-masing. Jika Islam melarang umat muslim ikut merayakan Tahun Baru atau Imlek, ya sudah. Kalian hanya perlu tidak merayakannya, bukan menyuruh umat yang merayakan itu membubarkan perayaannya. Begitu juga dengan agama lain. Kecuali ternyata agama dan kehidupan beragama kalian diusik, maka tidak ada salahnya menuntut keadilan. Sederhana, bukan?

Iya, tugas masing-masing penganut agama adalah menjalankan perintah agamanya dan menjauhi larangannya dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, bukan mengusik ajaran agama lain. Bukan begitu? :)

Senin, 03 Juli 2017

Lagi-lagi Moral...

Mari kita tinggalkan sejenak pro dan kontra mengenai konten Reza Arap Oktovian yang saya bahas pada postingan sebelumnya.

Beberapa tahun terakhir marak sekali kita gembor-gemborkan pendidikan moral dan etika. Seperti yang saya katakan sebelumnya, seluruh pihak dibutuhkan sumbangsihnya dalam menggalakkan hal ini.

Mirisnya, ketika para orang tua meresahkan anak-anaknya yang menjadi nakal karena pengaruh youtube dan teknologi, mereka tidak menyadari, bahwa potensi terbesar si anak menjadi kurang beretika lebih mungkin terjadi karena orang tuanya.

Saya salah satu pelanggan KRDI (sejenis KRL) dengan rute perjalanan Binjai-medan dan sebaliknya. Kereta api hanya satu, dan Kereta itulah yang bolak balik mengantar penumpang. Otomatis, ketika penumpang turun maka sudah ada penumpang lain yang berdiri dengan manis didepan pintu, siap naik KRDI.

Ada saat dimana saya merasa miris sekali. Bukan terjadi satu-dua kali, namun berulang kali.
Sering saya lihat ibu-ibu calon penumpang yang akan naik memanfaatkan anak yang dibawanya (kemungkinan berusia 6-11 tahun) agar si ibu dan keluarganya yang lain bisa mendapat tempat duduk dengan cara menjagakan tempat duduk tersebut (sistemnya seperti KRL di Jakarta, jika cepat maka akan dapat tempat duduk). Sebelum orang-orang turun dari kereta, si ibu mendorong anaknya untuk nyempil dan naik keatas kereta duluan, sebelum semua orang turun, dan berkata "dek naik dek cepat. Cari tempat duduk ya. Empat."

:((

Selain termasuk eksploitasi anak, secara tidak langsung si ibu juga mengajarkan anak untuk tidak sabaran dan menyerobot. Kemungkinan si anak akan terbiasa menyerobot tanpa menunggu orang-orang yang wajib diberikan jalan turun terlebih dahulu. Maka bisa jadi, si anak tumbuh menjadi orang-orang dewasa lainnya yang banyak saya temui saat naik KRDI; menyerobot untuk masuk tanpa memberikan kesempatan orang lain untuk turun dahulu dari kereta. Orang dewasa yang bertipe seperti ini mulai banyak. Banyak sekali. Ini berbahaya. Ketika ada satu orang yang mulai melakukan itu, maka yang lainnya ikut menyerobot. Alhasil orang yang turun dan naik akan saling dorong-dorongan. Kalau sudah begitu tinggal tunggu siapa yang akan jatuh terdorong.

Para petugas Kereta Api saya rasa sudah capek mengingatkan. Sampai tak segan untuk menarik baju orang-orang yang berniat menyerobot masuk. Mungkin karena hal itu, para ibu-ibu tadi menyuruh anaknya untuk menyerobot.
Ya memang si anak nyempil-nyempil sehingga lebih mudah dan dia ga akan terdorong. Tapi pembiasaan seperti itu bisa terbawa olehnya hingga dewasa.

Padahal jika orangtuanya paham pentingnya budaya santun dan etika, dia akan mengajarkan anaknya untuk antre dan menunggu dengan sabar hingga tidak ada orang yang turun lagi. Itu akan menjadi pembelajaran yang bagus sekali untuk anak. Belum lagi etika didalam transportasi umum, antre beli tiket, dsb. Wah, banyak sekali sesuatu yang bisa diajarkan ke anak. Sangat disayangkan sebenarnya.

seniorku pernah bilang "sebenarnya, orang tua berkewajiban mendidik anaknya secara maksimal dari awal hingga ia akil baligh". Jadi sangat baik jika segala aspek kehidupan kita diusahakan berunsur baik, sehingga bisa jadi media pendidikan untuk anak-anak kita.

Maaf, mungkin saya lancang menulis ini. Padahal saya belum jadi orang tua. Nikah aja belum. Masih 19 tahun. Tapi bagaimana lagi, bukankah ingat mengingatkan tidak berbatas umur?

semoga bermanfaat!

Wanita Tidak Pernah Salah (?)

(Tulisan ini terinspirasi dari diskusi pendek antara saya dan senior saya)

Pasti sering mendengar kalimat "wanita tidak pernah salah", kan?
Baik di meme, video instagram, bahkan kerap dilontarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana reaksi anda sebagai perempuan? Tersinggung kah? Atau tidak?
Jika tersinggung, maka selamat! Anda akan memahami maksud saya kali ini dengan mudah.
Namun jika anda tidak tersinggung dan cenderung bangga, izinkan saya sedikit menyampaikan pikiran yang cenderung kelewatan ini.

Girls, jika ditanya pendapat saya, saya akan tersinggung dan malu dengan kalimat diatas.
Kenapa?
Mungkin bagi kalian, statement itu hanyalah candaan semata. Namun bagi saya, statement itu punya hal tersirat yang sebenarnya merendahkan perempuan.

Kalimat "wanita tidak pernah salah" menurut saya, tidak merefleksikan bahwa wanita itu sempurna. Tidak. Kita semua pasti sadar bahwa tidak ada makhluk yang sempurna. Kalimat itu malah menyiratkan bahwa wanita adalah makluk yang egois, bersumbu pendek, tidak bisa dibantah, dan berpikiran sempit. Kalimat itu terasa seperti sarkasme. Sadarkah?

Senior saya berkata begini "Ada masa ketika kita akan merasa bahwa dipahami lebih penting daripada dipuaskan".
Girls, pernahkan kita berempati pada laki-laki yang selalu kita bantah dengan kalimat "wanita tidak pernah salah"?
Mereka juga manusia. Kita juga. Maka dipahami merupakan suatu hal yang tidak bisa diabaikan. Ketika bantahan kita hanya sekedar "wanita tidak pernah salah", itu artinya kita tidak memahami mereka sebagai sesama manusia. Tidak adakah argumen yang lebih elegan selain itu?
Bantahan cetek itu hanya akan membuat orang berpikir bahwa kita hanyalah perempuan individualis serta berpikiran sempit.

Girls, laki-laki...maaf ralat,
Manusia tidak akan betah dengan orang yang berpikiran sempit.
Tanyakan pada semua orang. Mereka akan cenderung merasa nyaman dengan orang yang bisa menyikapi opini orang lain dengan baik, dan juga yang bisa menyampaikan opininya dengan baik.
Apalagi laki-laki, yang sudah didesain dengan ego.
Senior saya bahkan sempat bilang "kalau aku nikah sama cewek yang gak bisa diajak terbuka untuk berdialog, ah menderita kali lah".

Girls, kalian boleh tetap konservatif. Boleh. Tapi tetaplah pada porsinya. Terbuka dengan opini-opini yang ada akan membuatmu menjadi orang dengan segudang pelajaran. Hasilnya kamu bisa lebih baik lagi dengan mengintropeksi dirimu sendiri berdasarkan opini tersebut.
Sadarilah, kita manusia yang pasti ada alpa dan tak luput dari kesalahan. Pembenaran yang dilakukan laki-laki atas tindakanmu (dengan mengatakan "iya deh, wanita emang ga pernah salah) akan menjerumuskanmu.

Girls, percaya deh. Betapa beruntungnya jika kalian punya pasangan yang mau dan bisa menyampaikan hal-hal yang perlu diluruskan diantara hubungan kalian dengan baik. Kenapa? Artinya dia menghormati dan menyayangimu. Ia menganggap bahwa kamu adalah perempuan cerdas yang bijak dalam menanggapi opini.
Laki-laki yang takut pada wanita-nya sehingga menghindari penyampaian pendapat tidak akan membuatmu maju.

Kita sebagai perempuan dan ibu (atau calon ibu) punya kewajiban sebagai madrasah pertama bagi anak-anak kita, dimana mereka akan belajar banyak hal dari kita. Maka urgensi kecerdasan untuk para perempuan sebagian besar demi membentuk anak-anak yang cerdas pula. Cerdas itu bukan hanya perihal ilmu pedagogi, namun juga dalam pola pikir. Kenapa pendidikan juga penting bagi perempuan? Karena pendidikan merupakan hal yang berpengaruh dalam pembentukan pola pikir.

Jika mindset kita dalam menyikapi opini pasangan saja sudah sempit, bagaimana kita bisa menyikapi opini-opini anak-anak kita? Oh tidak. Jangan sampai anak-anakmu terbentuk dalam pendidikan otoriter dimana si anak sulit menyampaikan pemikirannya. Pola pikirnya juga tidak akan berkembang.

Jadi intinya, mendengarkan dan memahami itu penting. Lupakan tagar "wanita tidak pernah salah" itu. Tidak ada yang salah dalam sebuah momen "kesalahan". Salah itu bagian dari proses, asal kita bisa menyikapinya sebagai pembelajaran.

Selasa, 23 Mei 2017

MISS INTERNET CIPTAKAN WAWASAN POSITIF BAGI GENERASI MILLENIAL


Internet sehat adalah salah satu program dari pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk mensosialisasikan penggunaan internet secara sehat dan aman. Sosialisasi dalam penggunaan  internet secara sehat  dan aman  akan melibatkan para orang dewasa serta orang tua untuk mengawasi anak-anaknya. Diharapkan dengan kemajuan teknologi yang ada dapat menyumbangkan wawasan positif untuk generasi millenial yang bermoral dan berbudi pekerti luhur.
Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta orang dan berada pada peringkat ke-8 dunia. Dari jumlah tersebut, 80 persen di antaranya adalah remaja berusia 15-19 tahun. Dengan jumlah pengguna internet yang mayoritas menggunakan jejaring sosial dan berbagai akses informasi maka sangat diperlukan edukasi yang tepat mengenai internet itu sendiri.
Kemajuan di bidang informasi tersebut pastinya memiliki dampak positif dan negatif tersendiri. Dampak positifnya adalah memberikan kemudahan mencari informasi yang dibutuhkan oleh penggunaannya. Tetapi sebaliknya, dampak negatif dari internet juga sangat harus diperhatikan. Contohnya adalah pengaruh konten negatif yang dijumpai dalam internet yang berupa penipuan, pornografi dan kejahatan dunia maya. Hal tersebut menjadi alasan mengapa diperlukan sosialisasi dan pengenalan mengenai bagaimana perlunya memperkenalkan penggunaan internet secara sehat dan aman sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga, masyarakat terkhusus untuk anak-anak dan remaja dapat mengatasi bahaya yang ditampilkan oleh konten-konten negatif tersebut.
Dengan terus memberikan sosialaisasi tentang internet dan juga wawasan positif yang terkandung didalamnya, para generasi muda diharapkan memiliki pengetahuan yang luas dan mengembangkan wawasan yang mereka miliki. Salah satu orang yang terus menggalakkan tentang wawasan positif dari internet ialah Sylvy Dhea Angesti. Gadis kelahiran 20 tahun yang lalu ini merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2016 di Universitas Sumatera Utara yang saat ini menyadang gelar  Miss Internet 2017 perwakilan Sumatera Utara.  Pada bulan Januari 2017 yang lalu Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) telah melaksanakan kontes pemilihan Miss Internet Sumatera Utara. APJII sendiri memiliki visi misi  untuk menyampaikan pesan bahwa wanita millenial Indonesia memainkan peranan penting dalam pertumbuhan Industri Internet di tengah-tengah masyarakat dan budaya Indonesia. Selain dituntut untuk berpenampilan menarik, seorang Miss Internet juga harus bisa menjalankan visi misi tersebut guna menyukseskan program pemerintah.
Menjadi Miss Internet Sumatera Utara 2017, Dhea terus fokus melakukan kegiatan-kegiatan sosial untuk menyadarkan para penerus bangsa tentang betapa pentingnya internet sehat. Hal tersebut sejalan dengan tujuan dari ajang modelling tersebut.  Terkadang, dalam tampilan internet, terdapat berbagi iklan yang seharusnya ditampilkan untuk anak usia tertentu. Tetapi, dengan adanya sosialisasi yang dilakukan oleh Dhea selaku Miss Internet Sumatera Utara 2017, menyatakan bahwa internet bisa menciptakan wawasan positif untuk generasi penerus bangsa dengan cara memfilter berbagai informasi yang ditampilkan disana.
Dengan kemampuan public sepaking yang ia miliki, ia berkesempatan berbagi pengalaman dan informasi seputar dunia internet yang  diketahui olehnya. Dhea saat ini memiliki tanggung jawab untuk terus  mensosialisasikan tentang internet dan wawasan positif yang didapat melalui internet kebeberapa sekolah di dalam maupun di luar kota Medan. Dengan terus mensosialisasikan penggunaan internet sehat ke beberapa sekolah, diharapkan agar para generasi millenial dapat menyaring berbagai macam informasi yang mereka temukan saat menggunakan internet, dan hanya menyimpan hal-hal yang positif dan bermanfaat.
 “Tidak dapat dipungkiri bahwa internet memiliki berbagai dampak positif yang berguna sebagai pendukung pendidikan anak-anak era milenial ini. Mereka dapat memenuhi akan keingintahuan mereka dengan membuka bahan bacaan, penelitian dan referensi serta lainnya” tutur Dhea.
Selanjutnya dengan pengetahuan yang mereka miliki lalu dapat mengembangkannya kedalam kehidupan mereka sendiri. Tetapi dalam penggunaan internet sudah seharusnya mendapat pendampingan oleh  orang tua dan sekolah.“Selain itu masyarakat juga perlu untuk selalu  cermat dalam menyikapi segala dampak yang didapatkan saat para remaja mengakses internet tersebut, dan juga selalu sigap dalam menangani kasus-kasus kejahatan yang ada di internet seperti penipuan, pornografi dan kejahatan dunia maya dengan melaporkan kepada pihak yang berwajib agar dapat ditindak lanjuti dan bisa membuat kemajuan untuk wawasan positif untuk generasi bangsa” tambahnya.

Jumat, 21 April 2017

Sudahkah Kita Memaknai Kartini dengan Benar?

Hari ini, 21 April, seluruh Indonesia memperingati hari kartini. hampir seluruhnya. bahkan banyak gift dan promo yang ditawarkan beberapa gerai untuk wanita. Ada kopi gratis, makanan gratis, bahkan bensin gratis 1 liter, seperti yang baru saya lihat saat dalam perjalanan ke kampus. tentu, itu bagus sekali. dan patut di apresiasi, mengingat tahun-tahun yang lalu belum ada yang seperti itu.
.
tapi ada satu hal yang muncul di benak saya. sebenarnya kenapa sih hari kartini dirayakan?
.
setelah saya googling, saya dapat kesimpulan bahwa hari kartini dirayakan untuk "mengenang jasa ibu kartini dalam perjuangannya membela hak wanita".
kalau ditanya, saya setuju kok sama peringatan hari kartini ini. bukankah kita sebagai bangsa yang baik harus ingat sejarahnya?
tapi yang membuat saya menelaah kembali, apakah cara kita memperingati dan merayakannya sudah benar?

menurut saya pribadi, cara mengenang ibu kartini bukan hanya dengan memperingatinya, lalu ramai-ramai memposting foto bertema kartini dengan caption "selamat hari kartini, untuk wanita-wanita hebat". bukan. bukan pula dengan memberi gratis ini itu saat hari kartini, padahal realitanya, apa yang diperjuangkan ibu kartini selama ini belum kita teruskan dan realisasikan dengan baik.
lihat, masih saja ada stereotip ini dan itu yang merendahkan martabat perempuan. lihat, masih saja ada pelecehan terhadap perempuan, baik itu kekerasan fisik, maupun pelecehan seksual. lihat, masih saja ada masyarakat yang berfikir bahwa "ah, perempuan gak perlu sekolah tinggi-tinggi lah. kan nanti kerjanya mengurus suami, anak dan rumah". apakah kita masih bisa mengucapkan selamat hari kartini disaat kita sendiri masih mengabaikan nilai-nilai yang diperjuangkan ibu kartini?
mari kita kembali belajar. yang saya tangkap (silahkan nanti tambahkan lagi), ibu kartini tergerak hatinya untuk membela kaum perempuan, karena masa itu perempuan dinomorduakan, dibatasi pergerakannya,serta tidak dibolehkan bersekolah. hidupnya hanya seputar dapur, sumur, dan kasur. perlakuan rendah pun kerap diterima perempuan. dijadikan gundik, ditelantarkan saat dianggap tidak berguna lagi, serta banyak lagi yang diterima petempuan masa itu. Lalu munculah ibu kartini dengan gerakan emansipasi wanita. Ia mengungkapkan gagasan-gagasannya pada teman Belanda-nya tentang keadilan gender, serta mendirikan sekolah untuk para pempuan pada masa itu.
maka saya rasa, tidak salah saya katakan bahwa ibu kartini pun mengharapkan perjuangannya bisa terus dilanjutkan oleh generasinya, untuk mewujudkan keadilan antara laki-laki dan perempuan. bukan dengan peragaan kebaya maupun kopi atau bensin gratis. tapi dengan gagasan, dan implementasi kebijakan yang berbasis keadilan gender.
.
Untuk para laki-laki, jika kalian benar mengapresiasi hari kartini ini, maka ikrarkanlah dalam hati kalian untuk menerapkan nilai-nilai keadilan bagi teman seiring kalian, yaitu perempuan. jangan lecehkan baik dengan perkataan maupun perbuatan. jika niat kalian ingin menegur dan mengingatkan kami, perempuan, yang terkadang alpa ini, tegurlah dengan bijak dan penuh kasih sayang.
wanita bukan dari tulang kaki, sehingga tidak pantas dirinya diinjak-injak. bukan pula dari tulang kepala, sehingga ia bukan untuk diunggulkan dan dipuja. tapi wanita, tercipta dari rusuk kiri. dekat kehati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi.
pun untuk para wanita, ingatlah, ibu kartini berjuang bukan untuk membebaskan kita sebebas bebasnya, sehingga mengabaikan kewajiban dan kodrat kita sebagai wanita. ibu kartini berjuang demi keadilan. bukan kesetaran. maka kita tidak perlu menuntut kesetaraan,yang jika dipikir-pikir malah merugikan kita sebagai wanita (bayangkan, kita tidak diberikan cuti hamil dan melahirkan seperti laki-laki. atau laki-laki ikut diberikan cuti hamil dan melahirkan seperti perempuan. lucu bukan?). maka yang perlu kita cari adalah keadilan. karena keadilan sesuai porsi, kemampuan dan keadaan jauh lebih baik dari kesetaraan.
keadilan meliputi hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik, perlindungan, serta perlakuan yang baik.
ya, kita berhak mendapatkan pendidikan seperti laki-laki. karena kita adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita kelak, yang dipercaya akan membentuk generasi hebat berkarakter baik dengan kecerdasan yang baik pula. oleh karena itu, kita perlu bekal ilmu untuk mewujudkan itu, sehingga pentinglah pendidikan bagi kita.
begitu juga dengan perlindungan. akui saja, sekuat apapun, kita butuh laki-laki untuk melindungi dan menenangkan kita disaat kita jatuh, serta teman hidup dan rekan mencintai. itu sudah kodrat kita. seperti yang dikatakan nyai ontosoroh dalam "bumi manusia" karya Pramoedya Ananta Toer: "jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai".
Terakhir, saya ucapkan selamat hari kartini bagi perempuan-perempuan Indonesia. semoga kita bisa memaknai makna hari ini dengan sebenar-benarnya, serta bisa memahami gagasan emansipasi dan keadilan wanita dengan sebenar-benarnya.

Rabu, 21 Desember 2016

Kepemimpinan dalam Perspektif Islam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Manusia dikenal sebagai makhluk sosial, yang artinya akan selalu bergantung pada orang lain. Berangkat dari hal tersebut, maka manusia memerlukan tindakan kerjasama untuk dapat menjalankan kehidupan dengan baik. Maka tak heran, jika banyak bermunculan kelompok-kelompok atau organisasi yang dibentuk oleh manusia sebagai wadah untuk bekerja sama demi mencapai tujuan yang diinginkan bersama, disamping untuk menjalankan kehidupan dengan lebih baik.
Walaupun hal tersebut telah ada sejak zaman nenek moyang kita, hidup dalam berkelompok dan berorganisasi tetap tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi yang baik dan kondusif didalam berkelompok, perlu adanya keharmonisan antar anggota serta peraturan yang harus dilaksanakan.
Dalam pelaksanaannya, setiap organisasi memerlukan orang-orang yang bisa mempengaruhi, mengarahkan, serta memotivasi anggota-anggotanya agar tujuan yang telah disepakati dapat tercapai dengan baik. Karena itulah, didalam organisasi muncul seorang pemimpin, yang fungsinya untuk mengarahkan, mempengaruhi, memotivasi, serta mengawasi apapun yang ada didalam organisasi.
Sejatinya, hubungan antara pemimpin ataupun kepemimpinan dengan organisasi sangatlah erat, bahkan tak dapat dipisahkan. Bukan cuma dengan organisasi, namun juga dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan Islam menyebutkan bahwa “diri kita sendiri adalah pemimpin terhadap jasmani dan jiwa kita, yang akan dimintai pertanggung jawabannya di hari akhir kelak”.
Sekarang ini, kepemimpinan telah menjadi hal yang tak asing serta telah menjadi hal yang harus dipelajari oleh setiap orang. Walaupun begitu, masih banyak orang yang tidak bisa memimpin kelompoknya atau bahkan dirinya sendiri dengan baik. Masih sering kita dengar tentang seorang pemimpin pemerintahan yang melakukan hal-hal yang tidak terpuji seperti korupsi, atau bahkan tidak memimpin serta mengayomi masyarakatnya dengan baik. Hal itu tentu melenceng dari tujuan-tujuan memimpin dan kepemimpinan yang sebenarnya.
Islam pernah mempunyai contoh pemimpin yang sangat baik dan diakui oleh dunia serta bisa dicontoh oleh semua orang diseluruh dunia, yaitu Nabi Muhammad SAW. Sifat serta tindakan dalam memimpin yang dilakukan Rasulullah SAW saat memimpin Madinah serta masyarakatnya saat masanya tidak perlu diragukan lagi. Terbukti dengan Islam yang mengalami masa kejayaan pada saat Rasulullah SAW memimpin dan diikuti oleh kepemimpinan para sahabatnya yang sampai bisa memperluas kekuasaan Islam hingga ke Eropa. Dan tentu, hal itu tak lepas dari ajaran-ajaran Islam yang dipegang oleh Rasulullah SAW serta para sahabatnya.
Oleh karena itu, untuk menjadi pemimpin yang berkualitas lagi baik, kita perlu mencontoh kepemimpinan Rasulullah SAW. Selain itu, kita juga perlu mengetahui dan terus menggali ilmu kepemimpinan dalam perspektif Islam melalui makalah ini, yang diharapkan bisa menjadi ilmu serta bekal kita dalam memimpin. Baik itu memimpin orang lain maupun diri sendiri.

1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana seluk beluk kepemimpinan dan pemimpin?
- Bagaimana kepemimpinan dalam perspektif Islam?
- Apa manfaat dari mempelajari tentang kepemimpinan?

1.3  Tujuan
- Untuk mengetahui seluk beluk kepemimpinan dan pemimpin.
- Untuk mengetahui tentang kepemimpinan dalam perspektif Islam.
- Untuk mengetahui manfaat dari mempelajari tentang kepemimpinan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KEPEMIMPINAN

2.1.1 Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan secara etimologi terjemahan dari kata “leadership” yang berasal dari kata “leader”. Pemimpinan (leader) adalah orang yang memimpin, sedangkan pimpinan merupakan jabatannya. Dalam pengertian lain, secara etimologi istilah kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin”yang artinya bimbing atau tuntunan. Dari “pimpin” lahirlah kata kerja “memimpin” yang artinya membimbing dan menuntun.
Selain itu, kata “pemimpin” telah didefenisikan oleh banyak ahli. Stogdill dalam Keith Grint (1997:114) menjelaskan bahwa kepemimpinan ialah sebagai suatu tindakan mempengaruhi kegiatan kelompok dalam usaha menyusun dan mencapai tujuannya. Di dalamnya terdiri dari unsur-unsur kelompok (dua orang atau lebih), ada tujuan dalam orientasi kegiatan serta pembagian tanggung jawab sebagai bentuk perbedaan kewajiban anggota. Pendapat tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi aktivitas individu atau kelompok dalam usaha kearah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu.
Tetapi, proses mempengaruhi tersebut bukan hanya dilakukan oleh pemimpin, namun juga sebaliknya. Artinya, antara pemimpin dan anggota saling mempengaruhi (Achua dan Lussier,2010:6).
Kepemimpinan adalah proses memberikan inspirasi orang lain untuk bekerja keras dalam mencapai tugas-tugas penting (Schermerhorn, 2010:434). Disini dipahami bahwa kepemimpinan merupakan proses memberikan inspirasi kepada bawahan atau anggota. Intinya adalah bagaimana penimpin mempengaruhi bawahan agar mau bekerja keras dengan sukarela dalam mencapai tujuan.
Kemudian Owens (1995:117) menegaskan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi prilaku orang lain melalui interaksi sosial. Dengan kata lain, kepemimpinan terjadi dalam interaksi dua orang atau lebih, dan tujuan pemimpin adalah berusaha mempengaruhi prilaku orang lain baik perorangan maupun kelompok.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi tindakan orang lain, anggota secara individu dan kelompok dengan interaksi dua arah agar mau bekerja sama secara sukarela dalam rangka mencapai tujuan bersama, memberikan inspirasi, memberikan perintah serta memotivasi anggotanya.

2.1.2 Keterampilan dan Karakteristik Kepemimpinan

            Keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi sebagian besar ditentukan oleh mutu keterampilan kepemimpinan yang dimiliki orang-orang yang diangkat atau diserahi tanggung jawab sebagai manajer atau pemimpin dalam suatu organisasi. Para pemimpin harus memiliki keterampilan dan sifat-sifat yang baik sebagai syarat sukses bagi seorang pemimpin dalam organisasi tertentu.
Dalam aplikasinya, kecakapan dan keterampilan  seorang pemimpin mencakup hal-hal yang berikut: (1) Mengetahui bidang tugasnya, (2) Peka atau tanggap terhadap keadaan lingkungannya, (3) melakukan hubungan antar manusia (human relation) dengan baik, (4) mampu melakukan koordinasi, (6) Mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat, (7) Mampu mengadakan hubungan masyarakat.
Kemudian, George R. Terry dalam bukunya “Principles of Management”, 1964 memaparkan sepuluh karakteristik pemimpin yang unggul, yaitu: (1) kekuatan, (2) stabilitas emosi, (3) pengerahuantentang relasi insani, (4) kejujuraan, (5) objektif, (6) dorongan pribadi, (7) keterampilan berkomunikasi, (8) kemampuan mengajar, (9) keterampilan sosial, (10) kecakapan teknis atau kecakapan manajerial.


2.1.3 Peranan dan Efektivitas Kepemimpinan

Seperti yang kita tahu, kepemimpinan merupakan hal yang dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja, serta sangat merekat dalam kehidupan aktivitas manusia. Baik dalam lingkungan masyarakat, pendidikan, maupun lingkungan kerja sebagai bentuk usaha dalam mencapai tujuan bersama yang diinginkan.
Menurut Achua dan Lusier (2010:11) paling tidak ada tiga peran pemimpin dalam kepemimpinannya, yaitu: (1) peranan interpersonal (juru bicara, pemimpin, dan perantara), (2) peran informasional (pemantau, penyebar gagasan, dan juru bicara, (3) peran pengambil keputusan (wirausaha, pemecah masalah, alokasi sumber daya, negosiator). Sejatinya, peranan pemimpin adalah untuk mempengaruhi orang dan mengarahkan orang lain, dalam hal ini anggotanya, untuk melakukan hal-hal yang bisa mewujudkan sesuatu yang telah menjadi tujuan bersama. Banyak para pemimpin yang telah menunjukkan eksistensi dan peran strategisnya, seperti contoh Nabi Muhammad SAW, Ir. Soekarno, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Nelson Mandela, dan  lain-lain. Mereka merupakan para pemimpin dunia yang berpengaruh lalu muncul ke permukaan dan mencetak sejarah.
Peranan pemimpin didalam biduk kepemimpinan secara singkat yaitu memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi, atau membangunkan motivasi-motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan komunikasi-komunikasi yang baik, memberikan pengawasan yang efisien, dan membawa para pengikutnya kepada sasaran yang ingin dicapai, sesuai dengan waktu perencanaan.
Selain itu, pemimpin pada umunya merefleksikan sifat-sifat dan tujuan dari kelompoknya. Kelompok kriminil akan memilih pemimpin yang ahli dalam hal kejahatan. Sekumpulan orang ambisius dan dan radikan, akan memilih orang yang paling radikal sebagai pemimpin. Jadi, pemimpin itu sedikit atau banyak pasti merupakan ringkasan pendek dari sikap mental kelompoknya pada saat itu.
Kepemimpinan dapat menjamin keberhasilan tugas seorang pemimpin. Namun hasil kerja atau pelaksanaan tugas tidak selalu dicapai dengan efektif karena berbagai faktor yang mempengaruhinya. Hasil kerja seorang pemimpin baru dikatakan efektif apabila terdapat keampuhan dalam pelaksanaan tugas yang dicapai baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Ketidak efektifan suatu tugas dapat pula terjadi karena tidak dilaksanakan oleh tenaga profesional, tidak berpengalaman, tidak memiliki kemampuan prima, daya dukung dan anggota organisasi rendah.

2.2 KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

2.2.1 Konsep Kepemimpinan Islam

Kepemimpinan merupakan tanggungjawab, bukan merupakan fasilitas tetapi kepemimpinan memerlukan pengorbanan dan melayani orang yang dipimpin. Dalam Islam, arti pentingnya kepemimpinan ditegaskan dalam hadist Nabi dari Ibnu Umar sebagai berikut:
حديث عبدالله بن عمر رضى الله عنه، أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم، قال: كلّكم راع فمسؤل عن رعيّته، فالأمير الّذى على النّاس راع وهو مسؤول عنهم، والرّجل راع على أهل بيته وهومسؤل عنهم، والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهى مسؤلة عنهم، والعبد راع على مال سيّده وهو مسؤل عنه، ألا فكلّكم راع وكلّكم مسؤل عن رعيّته.
أخرجه البخارى فى ٤٩ كتاب العتق: ١٧ باب كراهية التطاول على الرقيق
Hadits dari Abdullah bin Umar r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya. (HR. Bukhari).
            Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa selama manusia masih merupakan makhluk sosial, mereka selalu ingin hidup bersama dalam  masyarakat, maka setiap orang akan dituntut untuk mengambil perannya sebagai seorang pemimpin di masyarakatnya masing-masing baik dalam masyarakat yang primitif maupun modern. Masing-masing individu harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya, baik sebagai pemimpin resmi yang diangkat oleh kelompoknya maupun pemimpin alami, seperti dalam keluarga.
            Selain itu, konsep kepemimpinan dalam Islam  juga diuraikan dalam surah Al-Baqarah ayat 124 sebagai berikut:
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
[Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah (setelah itu) berfirman: “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak berlaku untuk orang-orang zalim”.]
            Menurut ayat diatas, ada beberapa hal yang perlu ditegaskan. Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Alqur’an bukan sekedar kontrak sosial antara antara pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi juga merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt, dengan kata lain amanat dari Allah. Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan, karena keadilan adalah lawan dari sifat zalim atau aniaya yang dijadikan syarat oleh ayat diatas, dan keadilan tersebut harus dirasajan oleh semua pihak.


2.2.2 Sifat-sifat dalam Kepemimpinan Islam
            Jika kita cermati dari Alqur’an dan Hadis, ada empat sifat yang harus dipenuhi seorang pemimpin. Dan hal ini telah ditunjukkan oleh para nabi dan rasul seperti Nabi Muhammad SAW dan yang lainnya yang notabene adalah pemimpin umat pada zamannya. Hal-hal tersebut adalah:
a.       Ash-Shidiq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap, serta dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pemimpin. Dalam kepemimpinan, sifat jujur merupakan hal yang utama untuk menciptakan kepemimpinan yang sukses. Karena dengan kejujuran, pemimpin tersebut akan dicintai oleh bawahannya, sehingga dengan hubungan yang baik antara pemimpin dengan bawahannya akan tercapailah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dan sukseslah kepemimpinannya.
b.      Amanah, berarti mempu memikul tanggung jawab dengan baik dalam melaksanakan setiap tugas dan kewajiban. Pemimpin seharusnya memelihara sebaik-baiknya apa yang diserahkan padanya, baik amanah dari Allah mupun dari orang-orang yang dipimpinnya. Apabila pemimpin telah amanah dan bertanggung jawabdalam melaksanakan setiap tugas dan kewajibannya, maka kepemimpinannya akan sukses karena dengan sifat amanah yang ditampilkan dari kejujuran, keterbukaan, dan pelayanan yang optimal, maka bawahan akan mendukung sang pemimpin sepenuhnya.
c.       Fathanah, yaitu kecerdasan. Dalam kepemimpinan, sifat cerdas dari seorang pemimpin akan melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan atau konflik yang muncul dalam kepemimpinannya.
d.      Tabligh, yaitu penyampaian atau komunikasi yang baik dalam kepemimpinan. Jika suatu haldisampaikan dengan hikmah, sabar, argumentatif, dan persuasif akan menumbuhkan hubungan manusia yang semakin solid dan kuat (Hafidhuddin dan Hendri, 2003). Oleh sebab itu, pemimpin harus mempunyai kemampuan mempengaruhi yang baik serta sabar sehingga dapat menciptakan situasi organisasi yang aman dan damai.

2.2.3 Unsur-unsur Kepemimpinan dalam Islam
            Berdasakan buku “Manajemen Organisasi Pendidikan: Perspektif Sains dan Islam” karangan Prof. Dr. Syafaruddin, M.Pd, Unsur-unsur yang sangat urgen bagi pemimpin dalam kepemimpinan yang harus dikuasai oleh seorang pemimpin yaitu:
a.       Musyawarah. Melalui ayat-ayat Alqur’an, Islam sangat menganjurkan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan didalam kelompok untuk mendapatkan keputusan yang terbaik. Mengapa demikian? Jika suatu keputusan ditentukan dengan cara musyawarah, maka semua pihak yang terlibat akan menerima dengan lapang dada karena keputusan yang diambil adalah hasil dari kesepakatan bersama, sehingga keputusan tersebut bisa diimplementasikan dengan baik.
b.      Keberanian dalam Kebenaran. Sifat berani dalam kebenaran merupakan kekuatan jiwa yang mengagumkan yang dimiliki oleh pemimpin sebagai bukti atas keimanannya kepada Allah swt. Berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 33, Allah menyebutkan bahwa orang yang takut pada Allah tidak akan takut pada siapapun dalam memihak kebaikan serta berani menegakkan keadilan dan kebenaran. Tetapi, ia juga harus bisa tegas dalam memberikan alasan dari tindakannya tersebut.
c.       Optimisme. Optimisme adalah kekuatan jiwa yang positif dan efektif. Orang yang bersifat optimis akan melihat sesuatu dengan senyum dan penuh harapan. Sifat ini akan menghindarkan seorang pemimpin dari sifat mudah putus asa dan putus harapan. Selain itu, sifat putus asa dilarang oleh Allah swt, karena akan meruntuhkan tujuan dan cita-cita seseorang. Maka jika ingin meraih hasil yang terbaik, seorang pemimpin tidak boleh berputus asa.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi tindakan orang lain, anggota secara individu dan kelompok dengan interaksi dua arah agar mau bekerja sama secara sukarela dalam rangka mencapai tujuan bersama, memberikan inspirasi, memberikan perintah serta memotivasi anggotanya.
Keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi sebagian besar ditentukan oleh mutu keterampilan kepemimpinan yang dimiliki pemimpin. Maka dari itu, seorang pemimpin harus bisa memenuhi indikator sebagai pemimpin, yaitu pandai memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi, atau membangunkan motivasi-motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan komunikasi-komunikasi yang baik, memberikan pengawasan yang efisien, dan membawa para pengikutnya kepada sasaran yang ingin dicapai, sesuai dengan waktu perencanaan.
Dalam pandangan Islam, setiap kita adalah pemimpin atas diri kita sendiri dan akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Artinya, pemimpin bukan hanya bertanggung jawab kepada anggotanya, tetapi juga tuhannya. Maka seorang pemimpin harus memenuhi kriteria yang baik, yaitu Shidq (jujur), Amanah (bertanggung jawab), Fathanah (cerdas), serta Tabligh (terbuka dan pandai berkomunikasi dengan baik).
3.2 Saran

Dengan semakin banyaknya mengkaji tentang kepemimpinan terutama dalam perspektif Islam, diharapkan semakin bertambahnya ilmu-ilmu mengenai kepemimpinan yang baik, agar menjadi bekal untuk diri jika kelak menjadi pemimpin atau manajer dalam suatu organisasi. Selain itu, ilmu-ilmu dalam makalah ini diharapkan bisa diaplikasikan didalam kehidupan organisasi, baik formal maupun informal.

DAFTAR PUSTAKA

Syafaruddin. 2015. Manajemen Organisasi Pendidikan: Perspektif Sains dan Islam. Medan: Perdana Publishing.
Kartono, Kartini. 1983. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Rajagrafindo Persada.