Tampilkan postingan dengan label 13 reasons why. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 13 reasons why. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2018

Untuk Kita Renungkan


Pada hari itu dosenku mulai menceritakan kisah perjalanan hidupnya, tentang bagaimana ia bekerja keras selama menempuh program doktoralnya di Amerika, menjalani hidup sebagai imigran bersama anak dan suaminya, hingga cobaan datang dalam bentuk penyakit yang diderita suaminya dan membuat penglihatan suaminya tidak berfungsi sebagaimana semestinya. Hal tersebut ternyata kerap menimbulkan masalah, contohnya saat ia sedang berjalan.

Hingga tiba di ujung cerita, tentang orang-orang yang langsung menvonis tanpa mengonfirmasi alasan kenapa suaminya sering menabrak orang-orang saat jalan. Hal itu membuatnya sangat kesal. Lucunya, dari sekian banyak pesan-pesan kehidupan yang ia sampaikan melalui ceritanya, aku malah memikirkan hal tersebut. Tentang dirinya yang kesal pada orang-orang yang suka menvonis orang lain bahwa orang tersebut salah tanpa mengonfirmasi cerita dibaliknya terlebih dahulu.

Aku pikir ini benar. Kita sudah sering termakan oleh asumsi kita sendiri, hingga melupakan alasan-alasan serta kenyataan di balik tindakan seseorang.

Aku pernah merasakannya, bagaimana seseorang menvonis tindakanmu sebagai hal yang salah, menyalahkanmu serta meremehkanmu padahal ia tidak tahu apa yang sedang kamu alami.

Aku yakin banyak dari kita menyadari bahwa hal ini kerap terjadi. Sayangnya, sebagian besar mencoba tutup mata atas ironi ini.

Sebenarnya aku pun begitu. Berpikir pesimis bahwa cara pandang itu sudah menjadi budaya manusia. Sulit rasanya untuk mengubah. Namun jika semua orang menutup mata dan mulut atas ironi ini, bukan tidak mungkin jika dampak yang lebih besar akan muncul.

Contohnya apa? Sebut saja kasus bunuh diri.

Suatu artikel mengatakan bahwa kasus bunuh diri bisa disebabkan oleh beberapa faktor, dan salah satu yang paling mempengaruhi adalah perasaan tak berdaya akibat adanya situasi yang menekan orang tersebut. Situasi tersebut paling mungkin muncul dari lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Artinya, vonis buruk yang kita timpakan ke seseorang bisa menjadi pemicu bunuh diri paling potensial dalam diri orang tersebut, karena ia merasa tertekan dan tak berdaya atas vonis kita. Agar lebih paham, serial televisi kabel 13 reasons why bisa memberikan gambaran bagus dalam fenomena ini.

Ada lagi cerita tentang orang yang membenarkan tindakannya dan mengesampingkan kenyataan yang sedang dialami orang lain karena tindakannya, seperti contoh mencoret-coret baju saat kelulusan di pusat kota. Sebenarnya masalahnya bukan terletak pada coret-coretnya, namun terletak pada akibat yang ditimbulkan jika mereka melakukannya di pusat kota. Munculnya kemacetan panjang, sampah berserakan, dan fasilitas umum ikut rusak tercoret-coret.

Sebagian orang berusaha mencari pembelaan, dengan kalimat “setahun sekali aja kok macetnya. Setahun sekali aja kok berserakan sampahnya. Setahun sekali aja kok tercoretnya.” Tapi coba sejenak berpikir, apa yang akan dialami oleh orang-orang yang terkena dampaknya. Bisa jadi beberapa orang yang terjebak macet saat itu sedang mengejar sesuatu yang penting bagi hidupnya (dan aku pernah merasakan ini). Bisa jadi ada orang yang sedang dalam keadaan darurat saat kemacetan terjadi. Bisa jadi ibu-ibu pekerja kebersihan yang berusia hampir senja harus pulang larut demi membersihkan sampah-sampah yang berserakan. Bisa jadi pemerintah akan mengeluarkan uang pajak dari masyarakat (lagi) untuk merenovasi kerusakan yang ada, padahal masih ada kebutuhan negara yang lebih penting dari sekedar merenovasi dampak kecerobohan kita.

Setelah melihat fenomena yang ada, masihkah kita merasa baik-baik saja ketika menvonis orang dengan seenaknya? Masihkah kita merasa nyaman saat menyepelekan orang lain? Masihkah kita merasa benar, sepele dan tidak peduli atas kejadian yang mereka alami karena ulah kita?

Ah, tapi siapakah aku ini? Bukankah menurut kalian seharusnya aku tidak mengomentari cara pandang orang lain? Namun aku juga punya hak untuk mengungkapkan cara pandangku kan?

Karena menurutku, kehancuran individu dan sosial manusia bukan lagi hanya karena harta, tahta dan wanita. Lebih dari itu, lidah dan cara pandang yang terasah tanpa terarah pun sama berbahayanya.

Kamis, 12 Oktober 2017

Bukan Kursus Merangkai Kata, namun Memahami kata (H+3 Hari Kesehatan Jiwa Dunia)

Pernah menonton serial "13 reasons why"? Sebuah serial bergenre misteri dengan latar cerita kehidupan SMA itu cukup membuat saya terkesan. Bercerita tentang Hannah Baker, seorang anak perempuan cantik yang bunuh diri karena sering dibully oleh teman-teman sekolahnya. Sebelum kematiannya, ia merekam narasi tentang 13 penyebab bunuh dirinya dan siapa orang-orang yang bertanggung jawab atas bunuh dirinya.
Terlepas dari kerennya penceritaan dan faktor pendukung lainnya, kesan pertama saya ketika menontonnya; hal sekecil apapun yang kita lalukan ternyata bisa berdampak besar bagi orang lain. Hal ini tergambar jelas di serial ini, bagaimana perasaan seorang Hannah Baker ketika hidupnya disepelekan dan suaranya tidak didengarkan.

Kebiasaan kita sebagai manusia adalah sering men-generalisir apapun. Ibarat kata, mencocokkan baju ukuran kita ke orang lain yang ukurannya berbeda. Seringkali kita menyamakan diri kita dengan orang lain. Padahal, apa yang orang lain rasakan belum tentu sama dengan kita. Setiap orang punya perspektif dan perasaannya masing-masing. Kealpaan kita akan hal itulah yang membuat kita cenderung sepele dengan apa yang orang lain rasakan dan pikirkan. Kita cenderung menyepelekan perasaan orang lain melalui kalimat "baperan banget sih lo" atau "begitu doang dipikirin". Padahal yang kita rasa sepele belum tentu sesimpel itu bagi yang lain. Bukannya menjadi penopang semangat mereka, kita malah menjadi beban yang menambah remuk perasaan mereka. Tidak heran jika kasus bunuh diri menjadi meningkat seiring dengan penggunaan kata "baper" yang makin menjamur. Apalagi dengan hadirnya sosial media yang menjadi media yang sering dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk melakukan cyberbullying. Kisah Amanda Todd dan Oka Mahendra menjadi bukti valid yang memperkuat fenomena ini.

Bagi kebanyakan orang, kecerdasan merangkai kata menjadi sesuatu yang sangat keren dan membanggakan. Namun tak banyak yang sadar, bahwa kesabaran dalam mendengarkan dan memahami kata-kata menjadi suatu hal yang tak kalah fundamental, dan menjadi salah satu kunci agar diri kita menjadi orang baik. Padahal, diam dan mendengarkan orang lain juga membuatmu menjadi berguna bagi mereka yang ingin didengarkan. Bisa jadi, ketidak sadaran bahwa kita dibutuhkan itu yang membuat orang-orang disekitar kita lebih rapuh lagi jiwanya, dan berakibat pada akhir yang naas. Ditambah lagi dengan kalimat yang sedang menjamur sekarang ini "ah, begitu saja baper".

Mungkin, kita tidak lagi hidup dizaman Jamrud yang hanya "butuh kursus merangkai kata", namun juga "butuh kursus mendengarkan kata-kata".

Binjai, Oktober 2017.