"Jadi kita itu belum dikatakan bebas merdeka, jika kita belum membebaskan orang lain." Seniorku mulai bersuara, mulai melenceng walau masih sedikit berhubungan dengan percakapan sebelumnya. Hari ini waktu ngabuburit kami diisi dengan diskusi pendek tentang apa yang sedang kami resahkan.
"Maksudnya seperti apa?" Sahutku.
"Iya. Sepanjang kita masih berpikiran tertutup dan mudah menyimpulkan, kita masih sangat jauh dari manusia yang bebas dan merdeka" sambungnya kembali.
"Jadi artinya, kita belum bebas merdeka jika masih tidak menghargai kebebasan berpendapat orang lain?" Tanyaku untuk memastikan.
"Iya begitu."
"Temanku seorang yang berpandangan liberal. Islam juga, namun dia berani menyalahkan ajaran Islam sendiri dalam satu tulisanku kemarin. Lalu aku membebaskannya dalam berpandangan. Jadi itu tidak salah?" Aku bertanya kembali.
"Temanmu belum liberal" jawabnya.
Aku sedikit heran. "Kenapa?"
" Temanmu belum liberal. Kau tau artinya liberal kan? Iya, bebas. Ia bisa disebut liberal jika ia tidak menyalahkan keyakinan orang lain. Bagaimana ia bisa disebut bebas jika ia sendiri tidak menerapkan kebebasan itu dalam memahami orang lain?" Jelasnya.
Aku terdiam sejenak. Berpikir tentang tulisanku kemarin yang, kupikir, melanggar kebebasan orang lain.
"Lalu apakah tulisanku yang kemarin salah? Sejujurnya, aku tidak menyalahkannya. Aku hanya...yah, sedikit mengomentari" Kataku.
"Aku tidak akan bilang salah atau benar. Itu bagus. Kau menulis, itu bagus. Mengomentarinya adalah kebebasanmu. Jika dengan menulis kau bisa mengaktualisasikan dan membebaskan dirimu, maka tidak ada yang salah. Dalam teori maslow, kebutuhan tertinggi seorang manusia itu adalah mengaktualisasikan dirinya." Jawabnya.
"Iya, aku juga berpikir begitu. Inilah kebebasanku. Toh aku menulis secara sopan dan penuh pertanggung jawaban. Namun banyak orang tidak paham maksudku. Mereka menganggap aku menyalahkan dia yang kutuju dalam tulisanku" Kali ini aku mengeluh.
"Jika kau sudah melemparkannya ke publik, apapun yang kau lakukan didepan publik, maka orang lain juga punya kebebasan untuk mengomentarinya."
"Jadi dia berhak melakukan sesuatu untuk membebaskan dirinya, lalu aku punya kebebasan untuk mengomentarinya, lalu kemudian orang lain juga punya kebebasan untuk mengomentari (bukan menghujat apalagi menyalahkan) komentarku di publik tadi?" Tanyaku memastikan.
"Iya. Yang perlu kau lakukan hanyalah feel free, jangan dijadikan beban" Jawabnya.
"Yah, dan tetap berbesar hati untuk menerima masukan untuk kebaikanku" sambungku.
"Dan yang terpenting dari itu semua," lanjutnya, "kita jangan berharap orang lain akan sepemikiran dengan kita. Tiap orang punya keotentikannya masing-masing. Tentunya keotentikan pola pikir ini sudah mengalami proses yang panjang, seperti keotentikan pola pikirku. Mulai dari aku belajar dengan tokoh ini, kemudian berdiskusi dengan si A dan B dengan pandangan berbeda-beda,lalu belajar mengenal pemahaman tokoh ini, sehingga lahirlah pola pikirku yang otentik ini, yang sudah mengalami proses berbeda dari orang lain. Ya ini lah pemikiranku. Lalu jika kita sadar kita khas, kita juga harus terima bahwa orang lain juga begitu. Dengan begitu, maka kita bisa menjadi manusia yang bebas merdeka." Jelasnya panjang lebar. Menyisakan aku yang berpikir ulang tentang diriku.
Sudahkah aku menjadi manusia yang merdeka?
Atau bahkan masih sangat jauh dari kata bebas dan merdeka?
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Januari 2018
Kamis, 12 Oktober 2017
Bukan Kursus Merangkai Kata, namun Memahami kata (H+3 Hari Kesehatan Jiwa Dunia)
Pernah menonton serial "13 reasons why"? Sebuah serial bergenre misteri dengan latar cerita kehidupan SMA itu cukup membuat saya terkesan. Bercerita tentang Hannah Baker, seorang anak perempuan cantik yang bunuh diri karena sering dibully oleh teman-teman sekolahnya. Sebelum kematiannya, ia merekam narasi tentang 13 penyebab bunuh dirinya dan siapa orang-orang yang bertanggung jawab atas bunuh dirinya.
Terlepas dari kerennya penceritaan dan faktor pendukung lainnya, kesan pertama saya ketika menontonnya; hal sekecil apapun yang kita lalukan ternyata bisa berdampak besar bagi orang lain. Hal ini tergambar jelas di serial ini, bagaimana perasaan seorang Hannah Baker ketika hidupnya disepelekan dan suaranya tidak didengarkan.
Kebiasaan kita sebagai manusia adalah sering men-generalisir apapun. Ibarat kata, mencocokkan baju ukuran kita ke orang lain yang ukurannya berbeda. Seringkali kita menyamakan diri kita dengan orang lain. Padahal, apa yang orang lain rasakan belum tentu sama dengan kita. Setiap orang punya perspektif dan perasaannya masing-masing. Kealpaan kita akan hal itulah yang membuat kita cenderung sepele dengan apa yang orang lain rasakan dan pikirkan. Kita cenderung menyepelekan perasaan orang lain melalui kalimat "baperan banget sih lo" atau "begitu doang dipikirin". Padahal yang kita rasa sepele belum tentu sesimpel itu bagi yang lain. Bukannya menjadi penopang semangat mereka, kita malah menjadi beban yang menambah remuk perasaan mereka. Tidak heran jika kasus bunuh diri menjadi meningkat seiring dengan penggunaan kata "baper" yang makin menjamur. Apalagi dengan hadirnya sosial media yang menjadi media yang sering dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk melakukan cyberbullying. Kisah Amanda Todd dan Oka Mahendra menjadi bukti valid yang memperkuat fenomena ini.
Bagi kebanyakan orang, kecerdasan merangkai kata menjadi sesuatu yang sangat keren dan membanggakan. Namun tak banyak yang sadar, bahwa kesabaran dalam mendengarkan dan memahami kata-kata menjadi suatu hal yang tak kalah fundamental, dan menjadi salah satu kunci agar diri kita menjadi orang baik. Padahal, diam dan mendengarkan orang lain juga membuatmu menjadi berguna bagi mereka yang ingin didengarkan. Bisa jadi, ketidak sadaran bahwa kita dibutuhkan itu yang membuat orang-orang disekitar kita lebih rapuh lagi jiwanya, dan berakibat pada akhir yang naas. Ditambah lagi dengan kalimat yang sedang menjamur sekarang ini "ah, begitu saja baper".
Mungkin, kita tidak lagi hidup dizaman Jamrud yang hanya "butuh kursus merangkai kata", namun juga "butuh kursus mendengarkan kata-kata".
Binjai, Oktober 2017.
Terlepas dari kerennya penceritaan dan faktor pendukung lainnya, kesan pertama saya ketika menontonnya; hal sekecil apapun yang kita lalukan ternyata bisa berdampak besar bagi orang lain. Hal ini tergambar jelas di serial ini, bagaimana perasaan seorang Hannah Baker ketika hidupnya disepelekan dan suaranya tidak didengarkan.
Kebiasaan kita sebagai manusia adalah sering men-generalisir apapun. Ibarat kata, mencocokkan baju ukuran kita ke orang lain yang ukurannya berbeda. Seringkali kita menyamakan diri kita dengan orang lain. Padahal, apa yang orang lain rasakan belum tentu sama dengan kita. Setiap orang punya perspektif dan perasaannya masing-masing. Kealpaan kita akan hal itulah yang membuat kita cenderung sepele dengan apa yang orang lain rasakan dan pikirkan. Kita cenderung menyepelekan perasaan orang lain melalui kalimat "baperan banget sih lo" atau "begitu doang dipikirin". Padahal yang kita rasa sepele belum tentu sesimpel itu bagi yang lain. Bukannya menjadi penopang semangat mereka, kita malah menjadi beban yang menambah remuk perasaan mereka. Tidak heran jika kasus bunuh diri menjadi meningkat seiring dengan penggunaan kata "baper" yang makin menjamur. Apalagi dengan hadirnya sosial media yang menjadi media yang sering dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk melakukan cyberbullying. Kisah Amanda Todd dan Oka Mahendra menjadi bukti valid yang memperkuat fenomena ini.
Bagi kebanyakan orang, kecerdasan merangkai kata menjadi sesuatu yang sangat keren dan membanggakan. Namun tak banyak yang sadar, bahwa kesabaran dalam mendengarkan dan memahami kata-kata menjadi suatu hal yang tak kalah fundamental, dan menjadi salah satu kunci agar diri kita menjadi orang baik. Padahal, diam dan mendengarkan orang lain juga membuatmu menjadi berguna bagi mereka yang ingin didengarkan. Bisa jadi, ketidak sadaran bahwa kita dibutuhkan itu yang membuat orang-orang disekitar kita lebih rapuh lagi jiwanya, dan berakibat pada akhir yang naas. Ditambah lagi dengan kalimat yang sedang menjamur sekarang ini "ah, begitu saja baper".
Mungkin, kita tidak lagi hidup dizaman Jamrud yang hanya "butuh kursus merangkai kata", namun juga "butuh kursus mendengarkan kata-kata".
Binjai, Oktober 2017.
Langganan:
Postingan (Atom)