Kamis, 12 April 2018

Untuk Kita Renungkan


Pada hari itu dosenku mulai menceritakan kisah perjalanan hidupnya, tentang bagaimana ia bekerja keras selama menempuh program doktoralnya di Amerika, menjalani hidup sebagai imigran bersama anak dan suaminya, hingga cobaan datang dalam bentuk penyakit yang diderita suaminya dan membuat penglihatan suaminya tidak berfungsi sebagaimana semestinya. Hal tersebut ternyata kerap menimbulkan masalah, contohnya saat ia sedang berjalan.

Hingga tiba di ujung cerita, tentang orang-orang yang langsung menvonis tanpa mengonfirmasi alasan kenapa suaminya sering menabrak orang-orang saat jalan. Hal itu membuatnya sangat kesal. Lucunya, dari sekian banyak pesan-pesan kehidupan yang ia sampaikan melalui ceritanya, aku malah memikirkan hal tersebut. Tentang dirinya yang kesal pada orang-orang yang suka menvonis orang lain bahwa orang tersebut salah tanpa mengonfirmasi cerita dibaliknya terlebih dahulu.

Aku pikir ini benar. Kita sudah sering termakan oleh asumsi kita sendiri, hingga melupakan alasan-alasan serta kenyataan di balik tindakan seseorang.

Aku pernah merasakannya, bagaimana seseorang menvonis tindakanmu sebagai hal yang salah, menyalahkanmu serta meremehkanmu padahal ia tidak tahu apa yang sedang kamu alami.

Aku yakin banyak dari kita menyadari bahwa hal ini kerap terjadi. Sayangnya, sebagian besar mencoba tutup mata atas ironi ini.

Sebenarnya aku pun begitu. Berpikir pesimis bahwa cara pandang itu sudah menjadi budaya manusia. Sulit rasanya untuk mengubah. Namun jika semua orang menutup mata dan mulut atas ironi ini, bukan tidak mungkin jika dampak yang lebih besar akan muncul.

Contohnya apa? Sebut saja kasus bunuh diri.

Suatu artikel mengatakan bahwa kasus bunuh diri bisa disebabkan oleh beberapa faktor, dan salah satu yang paling mempengaruhi adalah perasaan tak berdaya akibat adanya situasi yang menekan orang tersebut. Situasi tersebut paling mungkin muncul dari lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Artinya, vonis buruk yang kita timpakan ke seseorang bisa menjadi pemicu bunuh diri paling potensial dalam diri orang tersebut, karena ia merasa tertekan dan tak berdaya atas vonis kita. Agar lebih paham, serial televisi kabel 13 reasons why bisa memberikan gambaran bagus dalam fenomena ini.

Ada lagi cerita tentang orang yang membenarkan tindakannya dan mengesampingkan kenyataan yang sedang dialami orang lain karena tindakannya, seperti contoh mencoret-coret baju saat kelulusan di pusat kota. Sebenarnya masalahnya bukan terletak pada coret-coretnya, namun terletak pada akibat yang ditimbulkan jika mereka melakukannya di pusat kota. Munculnya kemacetan panjang, sampah berserakan, dan fasilitas umum ikut rusak tercoret-coret.

Sebagian orang berusaha mencari pembelaan, dengan kalimat “setahun sekali aja kok macetnya. Setahun sekali aja kok berserakan sampahnya. Setahun sekali aja kok tercoretnya.” Tapi coba sejenak berpikir, apa yang akan dialami oleh orang-orang yang terkena dampaknya. Bisa jadi beberapa orang yang terjebak macet saat itu sedang mengejar sesuatu yang penting bagi hidupnya (dan aku pernah merasakan ini). Bisa jadi ada orang yang sedang dalam keadaan darurat saat kemacetan terjadi. Bisa jadi ibu-ibu pekerja kebersihan yang berusia hampir senja harus pulang larut demi membersihkan sampah-sampah yang berserakan. Bisa jadi pemerintah akan mengeluarkan uang pajak dari masyarakat (lagi) untuk merenovasi kerusakan yang ada, padahal masih ada kebutuhan negara yang lebih penting dari sekedar merenovasi dampak kecerobohan kita.

Setelah melihat fenomena yang ada, masihkah kita merasa baik-baik saja ketika menvonis orang dengan seenaknya? Masihkah kita merasa nyaman saat menyepelekan orang lain? Masihkah kita merasa benar, sepele dan tidak peduli atas kejadian yang mereka alami karena ulah kita?

Ah, tapi siapakah aku ini? Bukankah menurut kalian seharusnya aku tidak mengomentari cara pandang orang lain? Namun aku juga punya hak untuk mengungkapkan cara pandangku kan?

Karena menurutku, kehancuran individu dan sosial manusia bukan lagi hanya karena harta, tahta dan wanita. Lebih dari itu, lidah dan cara pandang yang terasah tanpa terarah pun sama berbahayanya.

Senin, 08 Januari 2018

Bebas dan Merdeka (?)

"Jadi kita itu belum dikatakan bebas merdeka, jika kita belum membebaskan orang lain." Seniorku mulai bersuara, mulai melenceng walau masih sedikit berhubungan dengan percakapan sebelumnya. Hari ini waktu ngabuburit kami diisi dengan diskusi pendek tentang apa yang sedang kami resahkan.

"Maksudnya seperti apa?" Sahutku.

"Iya. Sepanjang kita masih berpikiran tertutup dan mudah menyimpulkan, kita masih sangat jauh dari manusia yang bebas dan merdeka" sambungnya kembali.

"Jadi artinya, kita belum bebas merdeka jika masih tidak menghargai kebebasan berpendapat orang lain?" Tanyaku untuk memastikan.

"Iya begitu."

"Temanku seorang yang berpandangan liberal. Islam juga, namun dia berani menyalahkan ajaran Islam sendiri dalam satu tulisanku kemarin. Lalu aku membebaskannya dalam berpandangan. Jadi itu tidak salah?" Aku bertanya kembali.

"Temanmu belum liberal" jawabnya.

Aku sedikit heran. "Kenapa?"

" Temanmu belum liberal. Kau tau artinya liberal kan? Iya, bebas. Ia bisa disebut liberal jika ia tidak menyalahkan keyakinan orang lain. Bagaimana ia bisa disebut bebas jika ia sendiri tidak menerapkan kebebasan itu dalam memahami orang lain?" Jelasnya.

Aku terdiam sejenak. Berpikir tentang tulisanku kemarin yang, kupikir, melanggar kebebasan orang lain.

"Lalu apakah tulisanku yang kemarin salah? Sejujurnya, aku tidak menyalahkannya. Aku hanya...yah, sedikit mengomentari" Kataku.

"Aku tidak akan bilang salah atau benar. Itu bagus. Kau menulis, itu bagus. Mengomentarinya adalah kebebasanmu. Jika dengan menulis kau bisa mengaktualisasikan dan membebaskan dirimu, maka tidak ada yang salah. Dalam teori maslow, kebutuhan tertinggi seorang manusia itu adalah mengaktualisasikan dirinya." Jawabnya.

"Iya, aku juga berpikir begitu. Inilah kebebasanku. Toh aku menulis secara sopan dan penuh pertanggung jawaban. Namun banyak orang tidak paham maksudku. Mereka menganggap aku menyalahkan dia yang kutuju dalam tulisanku" Kali ini aku mengeluh.

"Jika kau sudah melemparkannya ke publik, apapun yang kau lakukan didepan publik, maka orang lain juga punya kebebasan untuk mengomentarinya."

"Jadi dia berhak melakukan sesuatu untuk membebaskan dirinya, lalu aku punya kebebasan untuk mengomentarinya, lalu kemudian orang lain juga punya kebebasan untuk mengomentari (bukan menghujat apalagi menyalahkan) komentarku di publik tadi?" Tanyaku memastikan.

"Iya. Yang perlu kau lakukan hanyalah feel free, jangan dijadikan beban" Jawabnya.

"Yah, dan tetap berbesar hati untuk menerima masukan untuk kebaikanku" sambungku.

"Dan yang terpenting dari itu semua," lanjutnya, "kita jangan berharap orang lain akan sepemikiran dengan kita. Tiap orang punya keotentikannya masing-masing. Tentunya keotentikan pola pikir ini sudah mengalami proses yang panjang, seperti keotentikan pola pikirku. Mulai dari aku belajar dengan tokoh ini, kemudian berdiskusi dengan si A dan B dengan pandangan berbeda-beda,lalu belajar mengenal pemahaman tokoh ini, sehingga lahirlah pola pikirku yang otentik ini, yang sudah mengalami proses  berbeda dari orang lain. Ya ini lah pemikiranku. Lalu jika kita sadar kita khas, kita juga harus terima bahwa orang lain juga begitu. Dengan begitu, maka kita bisa menjadi manusia yang bebas merdeka." Jelasnya panjang lebar. Menyisakan aku yang berpikir ulang tentang diriku.

Sudahkah aku menjadi manusia yang merdeka?
Atau bahkan masih sangat jauh dari kata bebas dan merdeka?

Jumat, 08 Desember 2017

Indahnya Kepercayaan dan Kejujuran Diantara Kita

Pada satu waktu, saya mengikuti sebuah acara yang menjadi wadah koneksi antara pemerintah dengan masyarakat. Salah satu narasumbernya menjelaskan tentang program-program pemerintah dalam pembangunan berbasis teknologi, salah satunya dalam hal pajak. Bagaimana pengutipan pajak restoran dimulai dengan manual, lalu melalui bank dengan sistem yang masih dikendalikan oleh manusia dan kemudian dicanangkan bagaimana hal tersebut bisa tersistem secara otomatis tanpa verifikasi manual oleh manusia. Hebat bukan?

Ya, hebat sekali. Karena sekilas hal itu mencerminkan bahwa kita merupakan bangsa yang maju dengan teknologi yang mutakhir pula.
Namun, alasan dibalik pemutakhirannya cukup membuat saya (semoga kalian juga) merasa miris.

Narasumber itu bercerita, salah satu dasar dari pembayaran pajak secara praktis melalui bank adalah "ketidakpercayaan" pengusaha kuliner atas kutipan pajak secara manual, yang dibayarkan melalui pegawai pajak. Yang dikhawatirkan oleh mereka adalah penyelewengan sehingga pajak tersebut tidak sampai pada kas negara.
Begitupun inovasi selanjutnya. Selama masih ada campur tangan manusia atau belum ada sistem verifikasi langsung dari sistem yang sepenuhnya dikendalikan oleh teknologi, maka selama itu pula "ketidakpercayaan" masih eksis, karena dikhawatirkan masih ada celah bagi orang-orang tidak jujur untuk bermain kotor demi mendapat keuntungan dalam hal ini.
Begitu rumitnya memikirkan suatu rancangan pembangunan dan sistem di negara kita, selama rasa ketidakpercayaan dan sifat tidak bisa dipercaya masih bercokol dalam masyarakat kita. Dan rasa ketidak percayaan itu hadir bukanlah tanpa alasan. Perasaan itu muncul karena masyarakat sudah terlalu banyak "tersakiti" oleh kasus penyelewengan dan KKN yang terjadi dalam instansi pemerintahan.

Maka, dalam hal ini sebenarnya bukanlah sistemnya yang terus diutak atik. Namun pola pikir dan sikap kita lah yang harus diubah. Penanaman pola pikir dan sikap yang santun serta terpercaya bisa diwujudkan melalui pendidikan agama dan moral yang diutamakan pada generasi mudaa kita sejak dini. Bukan tidak mungkin jika hidup akan lebih mudah dan menyenangkan bila ada "trust" satu sama lain antar dua pihak, masyarakat dan pengurus pemerintahannya.

Sebut saja sistem pembayaran ongkos transportasi massal seperti bus. Alangkah mudahnya jika kita menerapkan teknologi dengan kejujuran dan sikap saling percaya. Kita hanya perlu membayar ongkos melalui kartu yang berisi saldo kita. Dan pembayarakan itu dilakukan atas kesadaran dan kejujuran kita sendiri. Kesadaran untuk bersikap jujur dan sadar bahwa ada Allah yang melihat tingkah laku kita yang curang. Tidak perlu lagi ada petugas yang mengawasi jika sewaktu-waktu ada yang tidak membayar, karena sudah timbul rasa saling percaya dan pikiran bahwa pengadilan Allah atas segala kecurangan akan lebih adil kelak. Begitupun sistem pembayaran pajak, yang bisa dilakukan melalui teknologi hanya atas dasar kemudahan, bukan kekhawatiran akan adanya "kong kali kong" antar petugas wajib pajak. Bukan tidak mungkin, jika aspek kehidupan lainnya juga ikut lebih mudah dan menenangkan dengan sikap yang sama.

Yang menjadi catatan bagi kita semua, upaya menumbuhkan rasa percaya harus dilakukan seiring dengan upaya pembiasaan sikap jujur serta taqwa pada Allah swt. Sehingga, kehidupan yang aman, tentram dan menenangkan akan hadir seiring tanpa ketimpangan sikap antara kedua belah pihak.

Kamis, 12 Oktober 2017

Bukan Kursus Merangkai Kata, namun Memahami kata (H+3 Hari Kesehatan Jiwa Dunia)

Pernah menonton serial "13 reasons why"? Sebuah serial bergenre misteri dengan latar cerita kehidupan SMA itu cukup membuat saya terkesan. Bercerita tentang Hannah Baker, seorang anak perempuan cantik yang bunuh diri karena sering dibully oleh teman-teman sekolahnya. Sebelum kematiannya, ia merekam narasi tentang 13 penyebab bunuh dirinya dan siapa orang-orang yang bertanggung jawab atas bunuh dirinya.
Terlepas dari kerennya penceritaan dan faktor pendukung lainnya, kesan pertama saya ketika menontonnya; hal sekecil apapun yang kita lalukan ternyata bisa berdampak besar bagi orang lain. Hal ini tergambar jelas di serial ini, bagaimana perasaan seorang Hannah Baker ketika hidupnya disepelekan dan suaranya tidak didengarkan.

Kebiasaan kita sebagai manusia adalah sering men-generalisir apapun. Ibarat kata, mencocokkan baju ukuran kita ke orang lain yang ukurannya berbeda. Seringkali kita menyamakan diri kita dengan orang lain. Padahal, apa yang orang lain rasakan belum tentu sama dengan kita. Setiap orang punya perspektif dan perasaannya masing-masing. Kealpaan kita akan hal itulah yang membuat kita cenderung sepele dengan apa yang orang lain rasakan dan pikirkan. Kita cenderung menyepelekan perasaan orang lain melalui kalimat "baperan banget sih lo" atau "begitu doang dipikirin". Padahal yang kita rasa sepele belum tentu sesimpel itu bagi yang lain. Bukannya menjadi penopang semangat mereka, kita malah menjadi beban yang menambah remuk perasaan mereka. Tidak heran jika kasus bunuh diri menjadi meningkat seiring dengan penggunaan kata "baper" yang makin menjamur. Apalagi dengan hadirnya sosial media yang menjadi media yang sering dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk melakukan cyberbullying. Kisah Amanda Todd dan Oka Mahendra menjadi bukti valid yang memperkuat fenomena ini.

Bagi kebanyakan orang, kecerdasan merangkai kata menjadi sesuatu yang sangat keren dan membanggakan. Namun tak banyak yang sadar, bahwa kesabaran dalam mendengarkan dan memahami kata-kata menjadi suatu hal yang tak kalah fundamental, dan menjadi salah satu kunci agar diri kita menjadi orang baik. Padahal, diam dan mendengarkan orang lain juga membuatmu menjadi berguna bagi mereka yang ingin didengarkan. Bisa jadi, ketidak sadaran bahwa kita dibutuhkan itu yang membuat orang-orang disekitar kita lebih rapuh lagi jiwanya, dan berakibat pada akhir yang naas. Ditambah lagi dengan kalimat yang sedang menjamur sekarang ini "ah, begitu saja baper".

Mungkin, kita tidak lagi hidup dizaman Jamrud yang hanya "butuh kursus merangkai kata", namun juga "butuh kursus mendengarkan kata-kata".

Binjai, Oktober 2017.

Jumat, 29 September 2017

Cegah Stunting Agar Menjadi Generasi yang Stunning

"Stunting? Apaan tuh?"

Sebagian besar masyarakat mungkin akan bertanya-tanya seperti itu jika mendengar kata Stunting, karena hal ini masih terasa asing ditelinga masyarakat awam yang tidak bergelut di dunia kesehatan. Padahal ini sangat penting dan perlu disadari oleh masyarakat luas, khususnya di Indonesia.

Memangnya, apa itu Stunting?

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Jadi, masalah stunting dapat terjadi jika si penderita tidak mendapat asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Penderita stunting ditandai dengan perawakan tubuh penderita yang lebih pendek dari standar tinggi badan seumurannya. Stunting sendiri terjadi mulai dari janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia 2 tahun, seperti yang disampaikan oleh Bapak Galopong Sianturi, perwakilan Gizinet Kementerian Kesehatan dalam acara Flash Blogging dengan tema "Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Dalam Penurunan Prevalensi Stunting" di Hotel Four Point Medan, 29 September 2017.

Jika seseorang menderita penyakit stunting, artinya ia tidak tumbuh dengan baik. Hal ini menjadi masalah yang sering kali tidak disadari oleh masyarakat. Padahal, banyak sekali akibat buruk yang ditimbulkan oleh penyakit ini, seperti perkembangan otak dan fisik yang terhambat, sulit berprestasi, rentan terhadap penyakit, hingga mudah menderita kegemukan. Bahkan anak yang menderita stuntung memiliki penghasilan 20% lebih rendah daripada anak yang tumbuh optimal. Negara pun ikut merasakan akibatnya, seperti penurunan produk domestik bruto negara sebesar 3%. Menurut Pak Galopong Sianturi, stunting sendiri disebabkan oleh kekurangan gizi dalam waktu yang lama pada 1000 hari pertama kehidupan si anak, sehingga anak-anak harus diperhatikan konsumsi gizinya dan faktor-faktor lainnya sejak dini agar bisa terhindar dari stunting. Sayangnya, masyarakat Indonesia masih belum teredukasi mengenai stunting dan bahayanya, sehingga acara Flash Blogging dengan tema Stunting ini sangat diperlukan agar para blogger yang hadir bisa ikut berperan dalam mengedukasi masyarakat akan bahaya stunting melalui tulisan dan konten blog yang informatif tentang hal tersebut. 


Para blogger tentu sangat antusias dalam hal ini, mengingat bahwa peran sekecil apapun dapat mencegah masyarakat dari stunting. Tentunya para blogger telah dibekali terlebih dahulu informasi mengenai Stunting dari bapak Galopong Sianturi dan ilmu tentang blog dari kak Mira Sahid, perwakilan Kumpulan Emak Blogger (KEB). Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi aksi kampanye positif untuk masyarakat agar bisa mencegah dan melindungi anak-anak maupun keluarga dari Stunting sebagai bagian dari Gerakan Masyarakat Sehat 2017, sehingga anak-anak Indonesia bisa tumbuh menjadi generasi yang hebat, produktif, sehat, bisa diandalkan dan stunning.

Jumat, 04 Agustus 2017

CHSG (Catatan Hati Seorang Guru)

"enak banget kamu udah jadi guru, udah bisa cari duit sendiri." atau "enak ya jadi guru ketemu anak-anak yang lucu dan polos-polos".

Kalimat-kalimat diatas sudah sering saya dengar, saya pun kontan hanya bisa 'nyengir', tidak tahu akan menjawab apa, karena jujur saja kondisinya jauh dari kata 'enak'.

Well, enak sih. Serius. Tapi kata 'enak' tidak mutlak menggambarkan kehidupan seorang guru, sekalipun guru mata pelajaran seperti saya.

Untuk para anak muda yang sedang semangat-semangatnya membangun negeri dengan kerelawanan, bertemu anak-anak dengan senyum polosnya memang menyenangkan, mendebarkan, dan menambah wawasan. Ditambah dengan bonus foto-foto candid yang apik dan instagram-able yang bisa di upload dengan caption nan inspiratif. Saya memahami itu sekali, saya juga pernah merasakannya. Namun ketika dirimu menjadi tenaga pendidik yang bertemu mereka setiap hari dengan segala keimutan dan keaktifannya, mungkin kesan pertama akan berbeda dengan yang seterusnya.

Anak-anak yang cenderung pemalu, ceria dan lucu ketika bertemu orang baru akan berubah menjadi anak-anak yang polos, hiperaktif, susah dipahami, dan banyak ingin tahu sehingga pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan akan berulang-ulang dan terkesan menjenuhkan. Yang mereka inginkan hanyalah apapun yang membuat mereka tidak bosan. Maka jangan heran ketika selesai satu tugas mereka selalu merengek ingin jajan keluar. Jika bosan pun selalu berterus terang dan menuntut, membuat hati guru-guru yang mendengarnya menjadi 'nyess'.

Banyak orang berpikir bahwa guru adalah profesi yang mudah dan membosankan. Karena persepsi "mudah" itu, bahkan banyak orang yang menganggapnya sebagai profesi 'cadangan', ketika mereka tidak bisa menggapai jurusan-jurusan yang lebih bergengsi di perguruan tinggi bergengsi pula. Padahal guru merupakan salah satu unsur terpenting dalam kemajuan bangsa.

Teman teman, menjadi guru bukan hanya perlu intelektual dalam mata pelajaran yang diajarkannya. Beban guru lebih dari itu. Calon guru belajar psikologi agar mereka bisa memahami calon anak-anak didiknya dengan baik. Calon guru juga belajar filsafat, agar dia tau hakikat dirinya dan bagaimana ia bersikap sebagai guru. Calon guru sudah dididik dengan kedisiplinan tinggi ketika ia mulai belajar menjadi guru. Sulit loh, menahan diri dengan rela pakai kemeja serta seragam rapih dan sepatu tertutup khas guru ketika anak-anak jurusan lain bahkan dengan entengnya bisa pergi kuliah dengan jeans dan baju-baju modis.

Ketika seseorang sudah menjadi guru, maka ia tidak hanya dituntut untuk pintar, namun juga beradab, sabar, pengertian dan berwibawa. Apalagi ketika dihadapkan dengan anak-anak SD yang cenderung seperti mesin fotokopi, yang gampang sekali men-'copy' apa yang orang sekitarnya lakukan. Bukan hanya di kehidupan sehari-hari, namun juga di dunia maya. Seperti contohnya murid-murid saya yang tiba-tiba suka berfoto dengan kedua tangan membentuk dua jari dan kaki diangkat sedikit seperti yang saya lakukan di foto profil facebook saya. Niat saya hanya seru-seruan, namun ternyata ditiru oleh mereka. "bu, kenapa anak muridnya bisa tahu facebook ibu?"; mohon maaf, di hari pertama saya mengajar, yang mereka kejar dari saya adalah nama facebook dan akun sosial media saya yang lain.

Jenuhkah saya? bosankah?

Ternyata tidak.
Selalu ada hal-hal baru yang saya temukan di hari-hari mengajar saya. menjadi guru itu melelahkan, maka jangan heran ketika ada beberapa guru senior yang bahkan tidak segan membentak anak-anak muridnya. Namun percayalah, ketika kau menemukan murid-muridmu tumbuh menjadi sosok yang baik dan membanggakan, rasa senangnya akan lebih berharga dibanding gajimu. Menemukan mereka bisa berkembang demgan 'passion' mereka, melihat binar-binar mata mereka karena mengerti akan ilmu yang kita sampaikan..rasanya luar biasa, seperti kau sudah menanam dan merawat satu tumbuhan dan pada akhirnya tumbuhan itu tumbuh dengan baik. Menyenangkan rasanya, ketika kau menjadi bagian dalam cerita sukses seseorang. Pernah merasakan itu? ketika bukan dirimu yang sukses, namun kau merasa begitu berarti karena ternyata telah menjadi bagian dari cerita suksesnya.

Untuk guru dan calon guru dimanapun berada, jangan menyerah dengan apa yang sedang dan akan kita jalani. Tugas kita mulia, maka kitapun akan mulia. Seorang guru harus punya ilmu, inovasi, dan itikad baik. Namun itulah tantangan kita. Profesi kita tidak membosankan. Profesi kita penuh tantangan dan itu yang membuat kita begitu berarti.

Sabtu, 08 Juli 2017

Definisi Bahagia (?)

Seperti apa sukses dan bahagia menurut versimu?

Sepertinya setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang ini.

Sukses dan bahagia versi teman saya adalah ketika berhasil menjadi seorang Taruna atau lulus di salah satu perguruan tinggi kedinasan. Seorang teman lainnya menganggap sukses dan bahagia adalah ketika bisa mendirikan startup sendiri. Ada lagi yang mengganggap sukses dan bahagia adalah ketika bisa travelling ke tempat-tempat impiannya. Saya sendiri menganggap sukses dan bahagia itu sederhana, bisa dikelilingi buku-buku yang disuka dan bisa menjalani rutinitas sesuai dengan passion.

Well, ada banyak hal yang disepakati orang sebagai sesuatu hal yang sukses dan membahagiakan, seperti menjadi PNS, TNI, dokter, dan sebagainya. namun tidak semua orang punya keinginan yang sama kan?

Kalau begitu, kenapa masih saja ada orang yang meremehkan sesuatu yang sedang orang lain jalankan? Kenapa masih ada orang tua yang memaksa anaknya untuk menjadi dokter, PNS di kementerian keuangan, Polisi, atau segudang profesi lainnya, padahal dengan menjadi fotografer atau pekerja seni si anak bisa cukup merasa sukses dan bahagia?

Ya, masalah orang-orang sekarang adalah suka mengeneralisasikan sesuatu hal. Sukses itu harus jadi dokter, kalau jadi manajer pasti bahagia, dan segudang opini lainnya. Iya, jadi dokter itu sukses kok. Tapi apakah semua  orang bahagia dengan profesi itu?

Ada lagi orang beropini "jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) itu suksesnya  bakal kalah sama yang aktif organisasi.", "buat apa ikut begituan, mending ikut yang itu tuh, lu bisa jalan-jalan, dapat temen banyak, dapet duit lagi" atau opini "kok bego banget sih gak mau coba tes itu. Kalau lulus kan enak, langsung kerja, gaji banyak". Iya, mungkin menurut kalian pilihan yang kalian sayangkan itu lebih menguntungkan. Namun apakah orang yang menjalaninya akan merasa bahagia dengan pilihan itu?

Saya adalah seorang pegiat sosial dan organisasi, dan berusaha menurunkan hal itu pada adik saya sendiri. Ketika adik saya punya kesempatan untuk ikut suatu kegiatan organisasi yang cukup menguntungkan, dia lebih memilih ikut seleksi Voli untuk lomba mewakili daerah yang diadakan bersamaan dengan acara diatas. "Voli itu impianku dari dulu mbak. Voli itu bagian dari cita-citaku. Ini kesempatan emas, gak mungkin dilewatkan" katanya.

Bodoh? Secara logika dia memang bodoh, sampai memilih seleksi voli yang belum tentu dia sukses dengan meninggalkan kegiatan yang lebih menguntungkan seperti mendapat ilmu, relasi, uang, dan segudang kenyamanan lainnya. Tapi ingat, hidup itu bukan sekedar materi. Untuk apa hidup jika meninggalkan mimpimu yang harus dituntaskan?

Untuk orang yang kerap meremehkan kehidupan orang lain karena tidak sukses seperti kalian, yakinlah ada banyak cara untuk bahagia. Tidak cuma seperti kalian. Mungkin dia hanya sibuk mengutak-atik komputer atau hanya sibuk menjalani rutinitasnya sebagai guru yang terus berhadapan dengan anak-anak yang mungkin susah diatur. Namun jika itu bahagianya, kenapa kalian meremehkannya?

Untuk orang yang sedang menjalani hidup sukses dan bahagianya, fokuslah dengan pilihan kalian, selama itu baik untuk kalian. Tidak perlu memikirkan cemooh orang lain, karena definisi bahagia setiap kita itu berbeda :)